Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Naufal 2015

Yeah, A6.

Membaca membuat kita lebih cerdas.

Tahukah anda, bahwa membaca akan membuat anda menjadi lebih cerdas? Jika anda sudah mengetahuinya, saya merasa salut untuk anda, dan bagi anda yang belum mengetahuinya, saya juga merasa salut untuk anda, namun, saya harap anda akan lebih banyak membaca mulai dari sekarang. Mengapa demikian, saya menyarankannya? Karena, berdasarkan pengalaman yang telah saya buktikan, rupanya, membaca sudah membantu saya menjadi lebih cerdas serta membantu saya dalam menciptakan life navigation didalam pribadi saya ini. Saya tahu, ini memang terdengar membosankan, bahkan awalnya, saya selalu memikirkan hal hal bermanfaat seperti apa, yang akan saya dapatkan dengan tetap membaca, dan memperluas rasa keingin tahuan saya dengan cara membaca. Waktu masih kecil, semua buku yang disarankan untuk anak seusia saya pada waktu itu, saya baca perlahan lahan, saya habiskan satu per satu buku buku anak hingga saya mulai merasa bahwa dari situlah dunia dapat saya eksplorasi lebih jauh lagi. Setelah demikian...

Do you know in Indonesian family?

Do you know in Indonesian family, including my family. There's a moment at every end of the month, where our family money is running low. And I wonder every time why is this thing always happen at every end of the month. So I take an initiation based on myself and going to analyze this financial problem that occurs in my family, what makes it like that, who makes it like that. I was searching for something like the cause and effect on this case. After some research, I found the first causes of this problem is the payment of the stuff they bought in a credit arrangement. Dengan tingkat bunga yang tinggi, mereka tetap membayar benda benda yang mereka beli secara kredit, entah itu rumah, Mobil, motor, ponsel ataupun benda lainnya. Satu hal yang jelas didapatkan dari motif membeli secara kredit adalah, tidak sabaran. Tidak berpikir panjang terlebih dahulu. Bayangkan, harga mobil yang tadinya hanya 100 juta, bisa menjadi 150 juta dikarenakan oleh bunga kreditnya, anggapl...

Beberapa poin penting untuk si hemat.

Ingin beli ini, ingin beli itu, ingin beli apapun yang saya mau. Awalnya, mengatur diri dalam menahan nafsu untuk memenuhi keinginan itu rasanya pasti sulit sekali, rasanya, diri ini bergejolak setiap detik nya agar kita membeli barang yang kita inginkan. Kadang kadang, saya heran, darimana ya, asalnya bisikan bisikan tersebut datang, sekilas, saya mencoba mencari tahu dalam beberapa sumber referensi psikologi tentang proses berpikir manusia, khusus nya untuk yang satu ini. Memang belum mendalam, tetapi untuk dasarnya, saya lumayan menangkap dan mendapatkan apa yang saya cari, tentu saja, dorongan untuk membeli sesuatu itu tentu saja memiliki pemicu nya terlebih dahulu, ada banyak sekali hal yang dapat memicu diri kita untuk memenuhi keinginan kita yang sifatnya tidak darurat, dan sebenarnya tidak penting penting amat. Namun kalau kita kalah, yah, kita beli juga deh barang yang kita inginkan tersebut. Baiklah, poin pertama untuk si hemat. Simulasi kan diri untuk menabung d...

Learn to be concerned; An opinion

In Indonesian families. There's something unique. This is about Indonesian families. It is the fate of the family itself. It's describe the previous habit of their ancestor. We can call it kaya 7 turunan, or miskin 7 turunan. Pada awalnya, yang sering disebut sebut sebagai si miskin adalah karena dia yang boros dan berpenghasilan sedikit atau pas pasan, sedang yang disebut sebut sebagai si kaya adalah dia yang hemat dan pelit namun berpenghasilan tinggi dan berlebih. Jika kamu sadari, apa itu artinya learn to be concerned? Itu adalah, belajar untuk prihatin, yes, betul sekali, banyak orang di jaman sekarang, yang boros dan berpenghasilan pas pasan sering mengatakan hal seperti demikian. Ada beberapa faktor yang menyebabkan mereka berkata kata seperti ini, untuk meminimalisasi rasa perih dari penyesalan karena sudah boros, mereka berkata demikian. Entah itu orang tua kepada anaknya, atau kakak kepada adiknya, atau seseorang kepada orang lain. Sejak kecil, saya sudah dibe...

Naufal Rangkuti - Audiophile: An accurate scale for tastes

Dalam kamus kehidupan saya, ada beberapa keinginan dan hobi yang memang memerlukan saya untuk lebih banyak menabung ketika berurusan dengan kasus kasusnya. Menjadi audiophile tidaklah mudah, dan perangkat audio, contohnya. Juga bukam hal yang gampang untuk dimiliki. Beberapa pria memang kerap ditemukan memiliki selera berlebih terhadap sesuatu hal, begitupula dengan saya untuk hal ini. Bagi saya, busana dan penampilan tidak perlu mahal, yang penting adalah ukuran yang tepat dan kerapihan busana si pemakai. Dan memang karena aspek busana memberikan saya toleransi yang begitu besar didalamnya. Sering saya temukan, sebuah secondhand suit dari london, yang masih sangat berkualitas namun dengan harga yang sangat miring. See? Saya bisa membelinya via eBay. Tapi kalau untuk suitsupply, (sebuah produsen jas) saya rela, spend more money, atau kalau untuk kemeja arrow yang legendaris itu. Tapi ya memang tidak terlalu banyak juga.. Secukupnya saja. Sama hal nya dengan jam tangan, saya mema...

Technologies: Gaming Experience, Source & Innovation

"Nowadays, gaming has been more than a thousand way to keep human as satisfied as they could enjoy more valuable thing in life." - Naufal Rangkuti Kini, saya mulai paham mengapa gaming itu merupakan sesuatu yang menyenangkan. Dimulai sejak era 90-an, saya mengenal dunia permainan dalam bentuk digital adalah tentunya redefinisi dari sekian banyak inovasi yang dilakukan oleh para inovator diluar sana. Sekilas bercerita mengenai pengalaman saya mengenai teknologi dan pengalaman gaming-nya. Namun hanya ada satu aturan paling vital di dalam dunia gaming, yaitu: jangan berlebihan. Saya mulai mengenal game pertama pada usia 6 tahun, saya mulai memainkan sonic the hedgehog pada konsol portabel yaitu sega, diberikan sebagai hadiah dari ayah. Saat itu, pemikiran pertama saya terhadap game adalah, game dapat membuat saya fokus. Kemudian, saya mencari hal lain apa yang menjadi benefit bagi saya saat memainkan sonic, mungkin ada beberapa seperti, melatih fokus, melatih memori d...

A Letter To My Imaginary Child

Dear, my only son. Mahabone. You might curiously speculate about who I am, where I am, and what I am. One thing you need to  know is, I’ve been born before the millennium era begins. And let me ensure you that every mankind has their history, I am, a history, too. I write this letter in the middle of a stormy weather, I even use my hand to write it for you. Along with the music I’ve been heard since the earliest time of my life. Yes, it was Newman's music. Now, I am far looking into the window, seeing that the weather is unrest, it’s a big and murky cloud out there. Then, a moment bygone. Hence, the ticking sounds of my semi modern clock is the only sound I hear at this very moment, while I am sitting in silence. I wish, I can walk with you. Walk along beneath the sunset in my hometown, Paris van java, the paris of java. Doing simple things with you, like dressing in our proper gentleman's suit jacket while catching ladies somewhere, beyond. ***** You know, I am ...

Naufal Rangkuti - Smooth Contemplation

Seperti yang bisa diketahui, saya memiliki tendensi untuk menyimak, mendengar dan mengamati terlebih dahulu dalam hal yang saya temui, dibandingkan dengan menimpali suatu topik / pembahasan dengan argumentasi yang tidak berbobot dan tidak jelas darimana. Saya memilih untuk menenangkan diri dan mengolah sesuatu terlebih dahulu. Karena jika ketawan bahwa pribadi ini adalah tong kosong nyaring bunyinya, saya bisa malu, lho. Intinya adalah simpel, karena gaya konsumsi setiap individu adalah unik. Pada beberapa individu, boros menjadi hal yang biasa dilakukan. Pada individu lainnya, hemat adalah hal yang harus dibiasakan karena mereka hanya cukup tahu fondasi utama dan dasar dari cara mengatur keuangan secara baik dan benar, sehingga mereka cenderung untuk tidak konsumtif. Dalam pandangan saya yang bersifat subjektif ini, saya memilih untuk tidak konsumtif. Bagi saya, gaya hidup adalah nomor kesekian. Kebutuhan, dengan pengelolaan multi tujuan bulanan yang bersifat...

Bersikap Profesional dengan Menyimak

Nampaknya, fakta mengatakan bahwa sudah puluhan tahun saya hidup di dunia ini, menjelaskan bahwa sudah cukup bagi saya untuk menyimpulkan beberapa hal mendasar yang menurut saya sangat penting kegunaannya untuk selalu diterapkan kedalam diri ini. Dalam opini saya yang bersifat subjektif ini, jika suatu hal mendasar tidak terdapat pada pribadi seseorang, maka dapat dipastikan dalam opini subjektif saya, saya tidak menaruh jempol pada pribadi tersebut. Selama puluhan tahun saya hidup, saya telah banyak menyaksikan banyak sekali interaksi antar manusia didalam hidup saya. Saya telah memperhatikan, menganalisa, mempelajari, dan bisa saja mengulanginya kembali saat saya membutuhkan sesuatu untuk diulang sebagai modal pembelajaran jangka panjang yang menjadi prinsip personal diri saya. Saya telah menyaksikan jutaan percakapan, kalimat, kata, nasihat dan segala macam hal yang membuat otak saya harus bekerja secara kontinyu. Ketika berumur enam tahun, saya yang masih ...

The Art Of Patience for High Standard Profile

Mendengar kalimat tersebut, sontak saya langsung menoleh, entah kenapa, dan entah mengapa, seperti ada sesuatu yang menggiring saya untuk tertarik mendekatinya, menelusurinya, dan mempelajarinya. Tentu saja, kalimat singkat tersebutlah yang ingin saya pelajari dan diskusikan kali ini. Setelah mencari tahu, saya mulai mendapatkan pencerahan mengenai apa maksud, makna dan wawasan dari kalimat ini. Sebetulnya apa sih, yang membuat kalimat itu sedemikian antik, sehingga dapat mengundang saya untuk mengetahuinya lebih jauh lagi. Saya tahu, memang pada awalnya saya hanya mendapatkan sedikit saja pencerahan dari kalimat ini. Saya hanya percaya dan terus berusaha mendapatkan kandungan yang berada didalamnya, semakin saya bertanya tanya, semakin banyaklah wawasan yang saya dapatkan, saya beranggapan, tentu saja dalam sebuah kalimat tidak mungkin dong, tidak mengandung esensi sama sakali, misalkan esensi dalam bentuk ilmu pengetahuan. Pada akhirnya, saya mulai berhasil meng...

Menghargai Tanpa Pandang Bulu

Bisa dilihat dari judul, bahwa tampaknya akan terasa berat untuk membahas hal yang satu ini, tapi mengapa saya tidak mencobanya, mengapa tidak mencoba untuk membahasnya? Karena siapa yang tahu apa yang akan terjadi, bukan? Saya tahu bahasan ini nampaknya dapat menaikkan alis. Namun, saya akan take it easy, saya akan menganggap hal - hal seperti ini se ramah dan senikmat mungkin, karena dengan menganggapnya seperti itu, niscaya saya akan akan merasa nyaman dalam menikmatinya. Pertama, apabila ada kesalahan maksud dan pernyataan, karena sebetulnya, hal itu sangat bersifat relatif dan persepsional bagi setiap orang, jadi, no offense. Menghargai tanpa pandang bulu, tentu pernah dengar kan istilah seperti ini? Entah itu dari manapun, bisa dari lingkungan bersosial, dari percakapan yang terjadi di keluarga saat sesi makan malam dilaksanakan, entah itu dari cipika cipiki saat anda bertemu dengan teman teman wanita anda, atau justru, malah berasal dari pemikiran anda se...

Actually, life is short.

Nikmatilah senja hari, menangislah akan keindahan nya, duduklah di tengah malam, menangislah karena sunyi adalah sahabatmu dalam duka. Menangislah dalam sebuah kontemplasi. Kawanku, mungkin renungan kita ini sebuah alakadarnya. Tetapi hidup memang ada yang berduri, biarkan kita belajar dan terus belajar. Karena ketika sudah mati, pelajaran kita sudah selesai. Tidak ada lagi keren kerenan seperti preman, pamer pameran harta, dan bergelut dengan urusan dunia. Belajar lah untuk berkata ikhlas dan tulus. "Oh iya, tidak apa apa.." "Terima kasih, mohon maaf jika saya melakukan kesalahan" 15 maret 2015, pukul 20.00 wib. Cecco cafe, bandung. Written By : Naufal rangkuti

Mantan, sakit jiwa & sandiwaranya

Mantan. Saya tahu kamu pernah sempat menjadi wanita saya dengan wajah yang cantik dan standar kualitas tinggi yang setara dengan apa yang saya preferensikan . Saya juga tahu kalau kamu sakit jiwa dan kamu tenggelam kedalam kesakit jiwaan itu sendiri, yang mana hal tersebut membuat kamu menipu dirimu sendiri dengan memberikan anggapan bahwa semua lelaki tidak memiliki kualitas sama sekali , well, kata siapa? Hingga waktu itu saya datang ke dalam hidupmu , saya bukanlah sebuah permainan untuk kamu... melainkan saya ingin jatuh cinta kepadamu, tanpa harus mengukur waktu yang pernah saya punya, mengenai berapa lama saya akan menjalin hubungan denganmu. Jadi saya tidak sakit jiwa, seperti yang kamu alami, kamu begitu sakit jiwa saat menganggap bahwa jatuh cinta itu seperti menghitung lamanya waktu pacaran dan berniat meninggalkan pacarmu begitu saja? Jadi kalau begitu pacaran itu seperti bom waktu yang ditunggu, meledak dan menyakitkan, begitu ya? Oh, honey ... itu...