Ingin beli ini, ingin beli itu, ingin beli apapun yang saya mau. Awalnya, mengatur diri dalam menahan nafsu untuk memenuhi keinginan itu rasanya pasti sulit sekali, rasanya, diri ini bergejolak setiap detik nya agar kita membeli barang yang kita inginkan. Kadang kadang, saya heran, darimana ya, asalnya bisikan bisikan tersebut datang, sekilas, saya mencoba mencari tahu dalam beberapa sumber referensi psikologi tentang proses berpikir manusia, khusus nya untuk yang satu ini.
Bayangkan uang itu sama seperti air, hemat lah sebaik mungkin, pisahkan atau sisihkan beberapa dari uang anda sebagai dana cadangan anda, agar kalau ada situasi darurat anda tetap aman. Seperti asuransi lagi, namun kalau kita bicara asuransi, mereka lebih spesifik, seperti kesehatan, pendidikan atau polis polis yang lainnya yang juga bersifat jangka panjang. Kini, saya akan membeberkan poin kedua, yaitu jangan gunakan uang anda untuk mengikuti gaya hidup di kota yang modern. Nah, ini dia poin kedua yang saya ingin bagikan.
Memang belum mendalam, tetapi untuk dasarnya, saya lumayan menangkap dan mendapatkan apa yang saya cari, tentu saja, dorongan untuk membeli sesuatu itu tentu saja memiliki pemicu nya terlebih dahulu, ada banyak sekali hal yang dapat memicu diri kita untuk memenuhi keinginan kita yang sifatnya tidak darurat, dan sebenarnya tidak penting penting amat. Namun kalau kita kalah, yah, kita beli juga deh barang yang kita inginkan tersebut.
Baiklah, poin pertama untuk si hemat. Simulasi kan diri untuk menabung dan buatlah rencana cadangannya. Betul sekali, saya dapat membayangkan nya seperti ini, saya memiliki sebuah rumah, saya memilih untuk tidak memasang pompa pompa air dirumah saya, baik itu pompa penyedot air, maupun pompa pendorong air. Mengapa tidak? karena memang alat alat itu sudah mahal di awal, mahal juga saat menggunakannya, apalagi kalau penggunaannya secara terus menerus, bisa tekor saya dibuatnya. Jadi, sumber air yang saya gunakan adalah dari perusahaan air daerah, atau...
Membeli air di tukang air atau tukang ledeng, dengan begini, saya melatih diri saya untuk hemat lebih efisien dan lebih efektif lagi dari sebelumnya. Saat PDAM mengalir, saya mengisi ember/wadah utama yang saya gunakan untuk mandi, mencuci piring, dan mencuci baju, namun, ada beberapa yang saya isi lebih banyak dari wadah lainnya, saya simpan airnya dan tidak saya gunakan sama sekali. Di sinilah poin dimana saya menabung dan membuat rencana cadangan dilakukan.
Jadi saat PDAM tidak mengalir, dan tukang ledeng tidak saya temukan, saya memiliki cadangan yang cukup untuk kebutuhan saya terhadap air. Mengapa saya melakukan ini, karena PDAM biasa saya temukan mati berhari hari, dan tukang ledeng setidaknya bisa saya telpon, namun tetap saja, dia memiliki jarak dari tempatnya hingga kerumah saya, jadi saya lebih baik menyimpan beberapa air sebagai cadangan untuk keadaan darurat.
Kenapa tidak buat rumah dengan pompa air? Saya agak malas berurusan dengan tukang pompa yang banyak menipu, meskipun tidak semua, tapi memang ini sudah terjadi pada banyak orang, jadi saya mencegah tukang pompa penipu yang menggali lubang untuk mencari mata air namun tidak membuahkan hasil sama sekali, ya karena berniat menipu itu tadi, jadi lubang air nya agak disenggol senggol sedikit, hal ini tentu saja ini sangat membuang buang uang saya. Kembali lagi ke poin pertama.
Bayangkan uang itu sama seperti air, hemat lah sebaik mungkin, pisahkan atau sisihkan beberapa dari uang anda sebagai dana cadangan anda, agar kalau ada situasi darurat anda tetap aman. Seperti asuransi lagi, namun kalau kita bicara asuransi, mereka lebih spesifik, seperti kesehatan, pendidikan atau polis polis yang lainnya yang juga bersifat jangka panjang. Kini, saya akan membeberkan poin kedua, yaitu jangan gunakan uang anda untuk mengikuti gaya hidup di kota yang modern. Nah, ini dia poin kedua yang saya ingin bagikan.
Mengapa jangan? karena gaya hidup seperti itu tidak akan ada habisnya, karena mereka akan terus menerus berinovasi untuk menggaet konsumen, ya konsumen seperti kita kita ini, melalui iklan, poster diskon di mall, dan beberapa penawaran menarik lainnya, yang memang tidak ada habisnya loh. Kalau bisa, gunakan uang anda untuk gaya hidup yang bersifat lebih rekreasional dan lebih natural, seperti membeli peralatan untuk camping, yang murah namun berkualitas, yang tentu saja akan berguna untuk menikmati camping di gunung, hutan, atau tempat yang menyegarkan lainnya.
Ya jikalau anda memiliki ide lain yang lebih baik dalam berhemat serta mengurangi diri kita untuk mengikuti gaya hidup di kota, silahkan saja di aplikasikan kedalam kehidupan personal anda. Karena pasalnya, mengikuti gaya hidup dan tren perkotaan itu juga bisa dibilang lumayan boros, sekarang saya dapat membayangkan apabila diri saya terlalu mengikuti tren gaya hidup di kota, saya pasti akan sangat sangat tekor dan kehabisan uang kalau saya tidak bijak dalam menggunakannya.
Beli satu setel jas musim baru di BOSS, makan siang di gerai pizza, check in di hi*ton hotel, makan malam di duc* king, memesan beberapa wine di lounge, membeli ponsel samsung terbaru, membeli laptop apple terbaru, membeli sepatu olahraga terbaru, membeli headphone bower & wilkins terbaru, membeli IWC yang terbaru, membeli parfum terbaru, bukan refill isi ulang yang di pinggir jalanan itu ya. Membeli motor dengan model terbaru, seperti ducati, mungkin, atau mobil terbaru, seperti jaguar atau bentley, mungkin? Wah, pasti sangat cocok untuk dipakai pamer ke teman teman saya, wah, pasti sangat cocok untuk difoto dan saya masukkan ke instagram saya. Hm, menarik sekali.
Nah, bagaimana, terbayang kan? Hehe, repot juga ya... namun, itu semua kembali ke diri kita masing masing, kita dapat memilih yang mana yang cocok untuk kita jalani dalam kehidupan personal kita. Untuk poin ketiga, saya memutuskan untuk menganggap poin ketiga sebagai sebuah metode praktis, yaitu gunakan uang untuk memperolah uang. Bagaimanakah caranya? Tentu saja dengan bisnis, yang nantinya akan menghasilkan keuntungan. Yang saya ketahui, meskipun berkecukupan, atau meskipun berkekurangan, tetaplah simpel, dan terlihat sederhana.
Comments
Post a Comment
Please don't hesitate to give a comment.