Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Naufal

A note from Naufal Rangkuti

Halo, selamat malam. Bagaimana kabar anda? Semoga baik baik saja, anda yang terhormat. Bisa kita ketahui, bahwa dalam beberapa waktu ini, saya menjadi semakin jarang untuk hadir dan berbagi kasih bersama serta menulis kisah seperti yang selalu kita dengarkan pada halaman kesayangan kita semua, yaitu Indigo Naufal. (www.indigonaufal.blogspot.com) Bukankah tanpa terasa, waktu selalu berjalan, menghitung hari rasanya menjadi satu kebahagiaan kecil yang selalu saya lakukan saat tumbuh berkembang menuju masa demi masa yang telah lelah terlewatkan, indah dikenang, yang juga terselip aneka keceriaan didalamnya, menjadi satu hal yang tak pernah mudah untuk dilupakan. Karena tidak ada yang dapat kita lupakan, selain berpura pura bahwa kita memang lupa. Karena sesungguhnya, kita selalu menyimpan seluruh kebahagiaan itu jauh, jauh lebih abadi didalam hati kita, hati yang tulus. Begitu berat rasanya disaat perlu menemui perpisahan, tetapi yang mungkin kehidupan ciptakan, suatu per...

The Catalyst : Laurie halse anderson

My neighbor was an old man when I first met him. He had gray hair and sad brown eyes, and he was the kind of man that would lean against a wall with a cigarette in his hand. I didn't like him much because he was so quiet. Later, my dad told me the story. My neighbor had been a victim of a concentration camp in the Holocaust. He was Jewish, and so were many other people. A letter came in the mail telling his family that there was a camp with good working conditions, if only they got on a train in the next week. Relieved from escaping the soldiers walking the streets, the family packed up immediately and boarded the train without asking any questions. Nobody told them how long the train ride would last, or where they were going. On the train, everybody was at first polite to each other, but a week went by without any stops, and many people died on the train from lack of water. People began to worry and wondered what was wrong. Finally, after two weeks, the train stopped at the...

Morning Jog | Written By: Audris Shafitama

Jadi gini… Kemaren, gue, Afi, Salma, Adoy sama Kak Naufal ngerencanain buat lari pagi hari ini. Fix. Rencananya udah ada, tinggal dilaksanain. Setelah itu gue nggak tau kronologisnya lagi, bye. Lalu, setelah gue telat bangun dan udah ada 8 missed call dari salma dan 4 sms dari dia juga tiba-tiba anak itu muncul di pintu kamar gue. HIH. Ternyata udah jam 7 kurang berapa gitu lupa. BUSET. Baiklah baiklah, gue terlalu ngaret padahal kemaren rencananya bilang abis subuh, ck. Setelah itu lari pagi. Judulnya sih lari pagi, tapi sebenernya nggak. Terus gue mau bikin video. Take pertama itu adalah gue ngeshoot kaki orang yang lagi pake sepatu. Tentu pemilik kakinya adalah orang yang gue kenal, nggak mungkin gue tiba-tiba nyegat tukang bubur terus minta dia lepas sepatu dan dipake lagi hanya demi 1 video singkat. Take 2 rencananya gue bakal

Pelukan Seorang Wanita

Memeluk wanita adalah satu satunya hal yang membuat saya dapat terjun bebas menuju pesta kebahagiaan. Memeluk wanita itu bukan hal gampangan, saya hanya melakukannya selama wanita itu bisa dipeluk, jika tidak, ya jangan. Memeluk wanita terkadang adalah sebuah simbol keharmonisan, suatu kemenangan, suasana romantisme, sarana membagi kasih sayang, trik untuk mendapatkan inspirasi. Atau bahkan yang paling tandem, citarasa lezat ketika kita mencintai seseorang. Dan iya, itu memang bumbu kehidupan. You know, kebanyakan dari wanita tidak tahu mana bedanya ketika pria berbicara busuk tentang hal romantis untuk meluluhkan hasrat dan hati mereka, dengan yang benar benar ingin memeluk karena ketulusan. Tapi buat saya, memeluk wanita adalah sebagian kehormatan dari menjadi seorang lelaki.

Mari berkenalan

Hello, saya Naufal Rangkuti. So mate, inilah blog saya, tempat dimana orang orang tersayang didalam hidup saya berkata kepada saya untuk segera membuat sebuah blog di internet. Menurut mereka semua, kenapa saya harus membuat blog, itu karena saya adalah salah satu sekian banyak anggota keluarga yang bisa menyenangkan mereka semua dari membaca tulisan - tulisannya, dan well, itulah sejarahnya. Kedua, karena saya memang bertempat tinggal di perkotaan, alasan yang agak weirdo sih sebetulnya. Yang saya tahu suasana kota terlihat selalu dramatis, no offense ya, dan itu membuat saya berkeinginan menulis di blog, misalnya. Sepulang dari hari penuh aktivitas... Saya suka bersantai di cafe, dengan secangkir coffee hangat diselingi membaca buku, mendengarkan musik jazz & ngobrol bareng semua teman wanita, menjadi penuh tawa bersama dan memulai sukacita untuk kami semuanya, ya, hal - hal klasik yang begitu sempurna.