
Mendengar kalimat tersebut,
sontak saya langsung menoleh, entah kenapa, dan entah mengapa, seperti ada
sesuatu yang menggiring saya untuk tertarik mendekatinya, menelusurinya, dan mempelajarinya.
Tentu saja, kalimat singkat tersebutlah yang ingin saya pelajari dan diskusikan
kali ini. Setelah mencari tahu, saya mulai mendapatkan pencerahan mengenai apa
maksud, makna dan wawasan dari kalimat ini. Sebetulnya apa sih, yang membuat kalimat
itu sedemikian antik, sehingga dapat mengundang saya untuk mengetahuinya lebih
jauh lagi.
Saya tahu, memang pada awalnya
saya hanya mendapatkan sedikit saja pencerahan dari kalimat ini. Saya hanya
percaya dan terus berusaha mendapatkan kandungan yang berada didalamnya,
semakin saya bertanya tanya, semakin banyaklah wawasan yang saya dapatkan, saya
beranggapan, tentu saja dalam sebuah kalimat tidak mungkin dong, tidak
mengandung esensi sama sakali, misalkan esensi dalam bentuk ilmu pengetahuan.
Pada akhirnya, saya mulai berhasil mengetahui bahwasanya ada beberapa high
standard atau standar tinggi yang terbagi kedalam beberapa sub kategorinya
lagi. Mengacu pada kalimat itu, tentunya.
Menurut penciptanya, hal yang
pertama kali saya dengar adalah high standard goods profile, disini akan saya
coba jelaskan apa itu high standard goods profile, atau profil berstandar
tinggi. Penciptanya berpendapat standar ini jatuh ke tangan orang yang memiliki
standar tinggi baik dari segi materi maupun kebendaan/goods. Hal ini tidak
melulu menyangkut soal uang, tetapi biasanya adapula yang seperti itu. Contoh,
ada segelintir orang yang tidak mau atau sangat anti memakai material dan juga
barang yang kurang berkualitas, tentu dikarenakan standarnya yang tinggi dalam
hal material atau kebendaaan.
Misal, seseorang akan lebih
memilih gunting rumput berbahan baja stainless produk SANGAT TOP dengan
kualitas juara dibandingkan produk SANGAT TIDAK TOP dengan kualitas yang kurang
juara, namun dalam jarak harga yang sama. See? Anda juga melihatnya kan?
Standar tinggi tidak melulu hanya soal uang. Namun tentu saja, yang soal uang
pun ada… saya pun masih sering menemukan hal ini, beda harga ya beda
kualitasnya, tetapi tidak semua seperti itu lho. Ya ini menjadikan dua buah
pilihan… Mirip iklan rumah tangga modern lah… Dua bini lebih baik. Hahahahaha,
saya hanya bercanda.
Ok, kita kembali ke topik,
seperti yang bisa dilihat pada kaum borjuis, kaum yang agak anti atau bahkan
ada yang sangat anti, hal ini relatif namun masih dalam satu kesatuan. Bahwa
mengenakan material atau kebendaan berharga murah adalah haram bagi mereka!
Nah! Disini harga adalah bukti nyata atas standar mereka yang tinggi, harga lah
yang saya tekankan bagi kaum borjuis, harga menjelaskan segalanya mengenai
standar tinggi mereka, bagi mereka, benda benda yang berharga mahal adalah
sebuah prestise, ya, harga adalah gengsi. Namun perlu diingat juga bahwa tidak
semuanya yang berharga mahal itu memiliki kualitas yang bagus lho…
Jadi mengenai persoalan bahwa
harga yang mahal berefek terhadap kualitas juga masih dapat dikatakan sebagai
hal yang relatif. Bagi kaum borjuis, dari harga mahal, ada sebuah kenikmatan
yang mumpuni, bagi mereka memang seperti itu, nyata sekali, bahwa ada perasaan
yang nikmat saat mereka menggunakan materi atau benda yang berharga mahal.
Mereka adalah kebalikannya dari contoh profil berstandar tinggi dalam hal
materi/goods yang sebelumnya, yang lebih mementingkan kualitas dari materi atau
kebendaan itu sendiri daripada hanya sekedar harganya, label kenamaan dan tetek
bengeknya saja.
Jadi, price to performance itu
harus setara, bahkan kalau bisa melebihi performanya, itu akan jadi lebih baik
bagi orang orang seperti ini. Sekedar pengalaman untuk diceritakan, dulu saya
juga pernah mencoba berpura pura seperti kaum borjuis, yang mana kaum borjuis
adalah orang orang kaya, betul? Logikanya begini saja, untuk apa saya memesan
aston martin apabila saya tidak punya uang sama sekali. Setuju? Nah, sedangkan
saya belum pernah sekaya itu, sekaya mereka yang sudah kebanyakan uang… Jadi
rupanya, setelah saya berpura pura, saya menemukan rasa sakit yang mendalam,
sakit sekali rasanya menjadi orang borjuis itu kalau tidak benar benar seorang
borjuis sejati, yang banyak duitnya…. sakit deh, pokoknya!
Heheheheh. Nah, bayangkan kalau saya
terus menerus memaksakan diri, saya dapat dipastikan berakhir sebagai pribadi
yang BPJS, budget pas pasan jiwa sosialita, dong! Haduh, jangan sampai deh! Mau
makan dengan apa saya nanti kalau uangnya habis dibelikan benda benda bersifat
tersier/keinginan semata, yang tidak menjadi kebutuhan alami/biologis atau
kebutuhan yang bersifat kritis untuk diri saya. Jika tidak dipenuhi, akan
berbahaya. Dalam hal ini, kesadaran diri akan realita sekitar sangat
dibutuhkan, seperti pengelolaan keuangan pribadi yang terstruktur dengan baik,
juga sangat dibutuhkan, karena hal ini yang menunjang proses kelangsungan hidup
kita.
Oh ya, perlu diingat bahwa disini
kita sedang membahas standar tinggi, setidaknya, tidak ada yang benar benar
gratis, murah, atau bahkan nyaris tak berkualitas sama sekali. Karena dapat
dipastikan apa yang mereka pilih itu tentunya sebuah penetapan dalam kategori
yang terbaik, dalam hal goods/benda dan material itu sendiri. Namanya juga high
standard, hehe.
Tipe high standard profile yang kedua.
High standard norm profile. Wah… Ini
juga dahsyat nih… Seseorang dengan profil berstandar tinggi bagi norma-norma
tertentu atau bisa jadi dalam norma kehidupan. Nah kan… Mulai pusing deh
mikirnya, haduh! Apa saya bakal mudeng gak yah… kalau saya mikirin standar
standar tinggi saja, eits tenang dulu… Anggap saja seperti anda sedang
menikmati sebuah camilan lezat, yang walau perlahan lahan dan seolah lama
mengunyahnya, toh camilan nya tetap habis terkunyah juga oleh anda, setuju?
Orang orang yang menjunjung tinggi norma norma kehidupan, mungkin bisa
dikatakan seperti… aktivis, relawan, pahlawan, disipliner sosial.
Orang-orang yang memegang standar
ini memang tidak mau norma-norma yang berada didalam lapisan bermasyarakat itu
terlantarkan, terabaikan, apalagi tersalah gunakan, intinya mereka sangat
menjunjung tinggi norma norma sosial di lingkungan bermasyarakat. — Norma
sosial adalah kebiasaan umum yang menjadi patokan perilaku dalam suatu kelompok
masyarakat dan batasan wilayah tertentu. Norma akan berkembang seiring dengan
kesepakatan-kesepakatan sosial masyarakatnya, sering juga disebut dengan
peraturan sosial.
Norma menyangkut
perilaku-perilaku yang pantas dilakukan dalam menjalani interaksi sosialnya.
Keberadaan norma dalam masyarakat bersifat memaksa individu atau suatu kelompok
agar bertindak sesuai dengan aturan sosial yang telah terbentuk. Pada dasarnya,
norma disusun agar hubungan di antara manusia dalam masyarakat dapat
berlangsung tertib sebagaimana yang diharapkan. — Seperti yang saya kutip dari
wikipedia bahasa indonesia tentang pengertian dan maksud norma itu. Kita tidak
dapat memaksakan kehendak orang lain dalam mengubah standar tinggi mereka
terhadap norma, namun kita dapat beradaptasi dengan hal itu.
Sebetulnya jika ditinjau dari penciptanya,
ia mengatakan, bahwa ada banyak sekali orang orang yang memiliki dominasi high
standard tertentu dalam pribadi mereka… seperti pada tipe high standard yang
ketiga ini, yaitu high standard for faith & religion… Nah… orang orang
begini biasanya sangatlah religius… mereka berpolah tingkah seperti pemuka
agama, atau tokoh tokoh agama, dan mereka selalu berusaha untuk selalu berbagi
kebaikan… mereka juga sangat bersemangat ketika diminta untuk menjadi para
penyebar pesan pesan arif dan kisah sejarah lintas universal dari tuhan yang
maha kuasa. Yang memberikan agama untuk para manusia di muka bumi ini.
Mereka juga terkenal sangat
beriman, alim dan bijak, tetapi hal ini bersifat relatif pada setiap individu
yang memegang standar tinggi pada keyakinan dan religiusitasnya masing masing,
meski sesekali terguncang, standar tinggi itu akan kembali ke asal mulanya,
hanya jika sang pemegang standar mengkehendakinya ya…. Karena itulah, hal ini
bersifat relatif dan tidak dapat dipatok hanya dalam poin tertentu saja, karena
sifat manusia yang selalu berubah ubah. Para orang orang yang memegang standar
tinggi ini juga biasanya enggan mendekati perbuatan perbuatan yang tercela,
perbuatan perbuatan yang bertentangan dengan keyakinan dan religiusitas mereka.
Saya tidak tahu, apakah itu secara personal, maupun profesional.
Nah selanjutnya saya akan
membahas perihal the art of patience nya itu sendiri, sebetulnya itu adalah
tentang seni, seni dalam bersabar. Hehehehe, kenapa? Kok sobat mulai senyam
senyum nih? Ada yang berbeda ya? Apakah kepercayaan diri sobat sekarang
meningkat? Atau ada hal menarik lainnya yang terjadi didalam pikiran sobat?
Kenapa seni itu terletak didepan segala high standard yang dibicarakan disini?
Well tentu seni dalam bersabar, seni dalam bertoleransi merupakan induk atau
ibu dari segala high standard itu sendiri… coba bayangkan, ketika seseorang
memiliki high standard dan sama sekali tidak mengenali, mengetahui atau
memahami dengan baik konsep seni dalam bersabar, dan bertoleransi dengan
manusia lain.
Wah… bisa bentrok nanti!
Begitupula kata si pencipta. Nah, sobat juga pasti memikirkan hal tersebut,
kan? Alangkah repotnya kalau seni bersabar itu sendiri, tidak menjadi kontrol
terhadap high standard yang dianut seseorang… jadi istilahnya… no toleransi
bro… ya kejamlah… ya jahatlah… ya liciklah… semua itu akan timbul jika
seseorang tidak memiliki dan menumbuhkan nilai keindahan itu didalam dirinya,
nanti, dia akan menjadi pribadi yang egois! Standarku boleh tinggi, tapi aku
kan harus paham situasi juga jika berhubungan dengan orang lain. Apalagi jika
standar tinggiku itu dalam aspek berkhayal…
Wah… aku bisa dikira sableng
nanti oleh orang disekitarku. Hih, nggak deh kalau hanya berkhayal saja! Hal
itu juga harus dibarengi dengan action juga dong… ya kan, setuju nggak? Seni
bersabar dan bertoleransi membuat seseorang akan hidup lebih baik dengan seni
seni tersebut. Well tentu saja begitu, mengapa? karena kita adalah manusia,
kita adalah mahluk yang membutuhkan satu sama lain, sangat omong kosong kalau
seseorang tidak membutuhkan orang lain dalam hidupnya… berusahalah mengalah
untuk menang, berusahalah pandai membawa diri dan berwibawa.
Karena dengan menjadi seperti
itu, hidup akan terasa menyenangkan untuk tetap dijalani.
Rendah hatilah… memiliki standar
tinggi tentu saja hal yang asyik untuk dipunyai, itu akan menjadi preferensi
sejati yang sangat memuaskan pribadi kita… apalagi jika hal itu terpenuhi… wah…
girang bukan main, tetapi terkadang, perlu kita ingat, bahwa realita itu
seringkali berbeda… jadi sekarang, mengapa saya benar benar tertarik dengan
konsep high standard yang bersifat relatif dan terdapat dalam diri setiap orang
di lingkungan bersosial kita ini? Saya yakin jawabannya adalah karena ini
memperluas wawasan saya, begitu… Setelah ngobrol panjang dan menganalisa, si
pencipta angkat berbicara, menurutnya, saya adalah orang yang memiliki tendensi
sebagai high standard value profile.
Dilihat dari mana, saya kembali
bertanya pada si pencipta? Banyak sekali, menurutnya, karena kan beliau mengenal
saya dengan sangat baik, ia tahu meskipun saya mampu memenuhi beberapa macam
keinginan anak muda masa kini dengan beberapa aset yang saya miliki, namun saya
tidak akan secepat itu melakukannya, tidak secepat itu bagi saya untuk
mengikutinya. Tentu saja, saya menganulirnya… saya berpikir terlebih dahulu,
nah… rupanya, disitulah nampak high standard value yang terdapat dalam diri
saya mulai bereaksi… untuk apa membeli segala macam benda hanya berdasarkan
keinginan semata saja.
Yang saya tidak butuhkan… kalau
tidak ada nilai gunanya… akan menjadi percuma… dan terbuang sia sia… So
disitulah profil high standard value/nilai saya tampil, saya bisa dikatakan
sebagai… pribadi yang hemat, pelit, perfeksionis, diplomatis, terserah
bagaimana orang akan menilai, saya akan tetap mendengarkan… Semua boleh
berpendapat, tapi toh yang memutuskan dan menjalankannya saya juga… bukan diri
orang lain, bukan mereka…. as long as it didnt harm other mankind. Saya sih oke
oke saja. Karena begini, saya jadi tertarik untuk mengkaitkannya dengan
filosofi pribadi yang saya ciptakan, yaitu filosofi tempe.
Bagi saya pribadi, tempe itu
adalah jenis makanan yang simpel, sehat, sederhana, murah dan meriah, bernilai
guna tinggi, dan tentu saja menguntungkan saya sebagai orang yang sangat
concern atau menaruh perhatian, serta standar tinggi, terhadap sebuah nilai.
Duh, kok saya jadi merasa lapar ya. Saya pribadi selalu mengambil sisi
positifnya saja. Karena setiap orang tentunya berbeda beda, jadi jika dikaitkan
dengan saya, tentunya saya akan mengatakan bahwa jalan terbaik adalah jalan
independen atau jalan kemandirian.
Hubungan saya dengan berbagai
macam orang yang saya temui dalam hidup ini, ada yang tidak cocoknya, ada juga
cocoknya, tetapi saya dan mereka semua menjalaninya dengan baik, baik sebagai
keluarga, sebagai teman, teman dekat, sebagai kenalan maupun hubungan yang
lainnya.. apakah itu tergantung mereka? Tentu tidak… itu semua tergantung diri
saya… sayalah yang secara total, yang mengatur diri saya terhadap orang lain…
karena ini bukan tentang apa yang saya lakukan, melainkan tentang bagaimana
saya melakukannya..
Nah sekarang, apa yang membedakan
pada akhirnya, apakah sobat ingin menebaknya? Baik… jawabannya adalah kualitas
dan nilai dari sebuah hubungan. Ibarat saya seorang introvert berteman dengan
ekstrovert, tentu saja jika dibandingkan dengan ekstrovert pribadi saya akan
far more happy berteman dengan para introvert, karena ada banyak kesamaan nilai
yang terdapat dalam diri kami… inilah yang sering orang sebut dengan common
sense, mutual interest, common value, atau sebutan keren lainnya. Nilai
biasanya berkaitan dengan jumlah, semakin tinggi nilainya, semakin banyak
jumlahnya, profil standar tinggi saya terhadap nilai disini, sangat menunjukkan
visual diri saya.
Seperti saya yang senang
menabung, berinvestasi, karena saya suka jumlah uang yang besar, maka saya
mulai belajar menghormati nilai dari uang uang itu sendiri… meskipun dimulai
dari yang kecil kecil, karena standar saya tinggi, maka saya tidak meremehkan
apapun yang nantinya akan bernilai… bagi saya, itu adalah standar, itu adalah
apa ketetapan saya. Namun, belum tentu bagi orang lain… setuju? Hal ini juga
teraplikasi pada keputusan saya dalam mengambil segala peluang dalam hidup,
baik dari bisnis, karir, maupun aspek kehidupan pribadi, itu semua tersentuh
tidak ada yang terlewat satupun.
Karena memang prosesnya akan
terhenti kalau satu aspek saja belum terselesaikan… kira kira seperti itulah,
hidup akan terasa kurang… apabila tiada standar sama sekali dalam pribadi kita…
rasa rasanya, seperti ada yang perlu ditambah, makanya sifat manusia itu memang
selalu berkembang kedepan, sifat manusia itu mencakup inovasi, itu sudah
merupakan sifat alami pribadi pribadi yang cerdas, bermutu tinggi. Sekarang,
bayangkan saja kenyataan yang dimulai dari menjadi manusia purba… hingga
sekarang sudah menjadi manusia canggih, yang memegang ponsel pintar, sungguh
hebat bukan?
Apalagi sih yang mau ditutup
tutupi lagi dari fakta bahwa peradaban manusia itu semakin lama semakin maju
kedepan.. hal ini juga akan mencetak banyak pribadi dengan profil standar
tinggi yang lainnya, jadi kalaupun ada yang mundur kebelakang, pemikirannya
perlu dipertanyakan… juga soal seleksi alam atau nature selection. Nature
selection itu sebetulnya tidak horor horor amat… barang siapa yang mau
berusaha, pasti akan mendapatkan hasilnya, itu sudah menjadi hukum pasti. Hukum
sebab akibat. Nah barang siapa yang tidak berusaha, ya lewat… begitu kan,
simpel sekali. Diatur atur saja lah ya.
Seperti yang kita ketahui, akan
ada banyak sekali tipe tipe high standard lainnya yang bisa kita diskusikan
saat saya ngobrol dan berpikir secara santai dengan sobat semuanya. Rupanya
baru saya sadari toh, bahwa yang menciptakan ide, hingga topik pembicaraan yang
kita bahas kali ini adalah diri saya sendiri… Wah… Senang rasanya masih bisa
berbagi dengan sobat semua. Senang juga rasanya yang maha kuasa masih
memberikan saya kesempatannya yang berkualitas untuk saya jadikan sebagai sesi
ringan untuk berdiskusi, berkontemplasi dengan sobat semua. Jadi.. sekian
diskusi dengan saya kali ini, Saya ucapkan terima kasih sebanyak banyaknya.
Bersama dengan saya, Naufal
Rangkuti. Your contemplation partner.
Comments
Post a Comment
Please don't hesitate to give a comment.