Skip to main content

Menghargai Tanpa Pandang Bulu





Bisa dilihat dari judul, bahwa tampaknya akan terasa berat untuk membahas hal yang satu ini, tapi mengapa saya tidak mencobanya, mengapa tidak mencoba untuk membahasnya? Karena siapa yang tahu apa yang akan terjadi, bukan? Saya tahu bahasan ini nampaknya dapat menaikkan alis. Namun, saya akan take it easy, saya akan menganggap hal - hal seperti ini se ramah dan senikmat mungkin, karena dengan menganggapnya seperti itu, niscaya saya akan akan merasa nyaman dalam menikmatinya. Pertama, apabila ada kesalahan maksud dan pernyataan, karena sebetulnya, hal itu sangat bersifat relatif dan persepsional bagi setiap orang, jadi, no offense.


Menghargai tanpa pandang bulu, tentu pernah dengar kan istilah seperti ini? Entah itu dari manapun, bisa dari lingkungan bersosial, dari percakapan yang terjadi di keluarga saat sesi makan malam dilaksanakan, entah itu dari cipika cipiki saat anda bertemu dengan teman teman wanita anda, atau justru, malah berasal dari pemikiran anda secara personal, yang meluap ke permukaan. Kemudian dengan berpikir seperti itu, anda merasa keren sekaligus disaat itupula, mengapa anda merasa keren? Ya tentulah, karena dari judulnya saja, anda sudah menghargai orang tanpa pandang bulu, eits, anda jangan senang dulu, karena hal itu baru terjadi secara teoritis saja. Namun belum terjadi secara praktek.


Lalu, bagaimana dengan prakteknya? Anda perlu tahu bahwa praktek seringkali saya temukan tidak mudah untuk dilakukan, memang, suatu praktek itu tidak mudah, saya tidak berharap anda jenius dalam melakukan hal ini, dengan tidak membuat kesalahan sama sekali, saya justru lebih mengharapkan anda melakukan kesalahan minimal setidaknya dua kali saja. Karena dengan begitu, anda akan mulai memahami bagaimana cara yang tepat dalam menghargai orang tanpa pandang bulu. Memang, saya berharap kali ini saya dapat membahas bagaimana cara menghargai orang tanpa pandang bulu, yaitu pada semua orang yang anda temui.

Namun sayangnya, kali ini saya hanya akan membahas satu kondisi dalam menghargai saja, dimana anda tidak akan berusaha menghargai orang yang baru anda kenal, atau orang yang sudah anda kenal dengan baik, sehingga secara otomatis, anda sudah pasti akan menghargainya, mengapa demikian? Karena hubungan yang sehat dan baik akan menumbuhkan hal ini, lalu, bagaimana dengan hubungan yang kurang baik, dan hubungan yang kurang sehat, apakah anda masih tetap ingin menghargai orang dalam hubungan ini? Apa masih terdapat niatan dari diri anda untuk tetap menghargai orang yang statusnya disini adalah, memiliki hubungan yang tidak baik dan tidak sehat dengan diri anda.


Kini, saya akan mengajak anda untuk memulainya dari mantan pacar anda. Nah.. bagaimana? Cukup menarik dan cukup sarkastik, bukan? Hahahaha. Saya yakin disini beberapa dari anda sudah mulai menemukan suntuk yang mendalam, rasa ingin menjauh, rasa ingin tidak membahas hal ini sama sekali karena anda pikir hal ini tidak perlu, dan hal ini sama sekali tidak berguna untuk anda, well, kata siapa? Kata anda, iya. Padahal, belum tentu. Betul, belum tentu semua hal itu tidak berguna, meski kadang kelihatannya tidak berguna, suatu hal kadang menjadi berguna, hanya bila saya cukup cerdas dalam mencoba menyadarinya, ingat, mencoba, menyadarinya. Bukan hanya menyadari saja.


Sedikit bercerita, saya yakin saya semua cukup bermasalah dengan hal ini, mantan pacar saya. Yes, benar sekali. Alasan mengapa si dia menjadi mantan pacar saya adalah alasan yang seringkali benar benar menjadi keputusan bulat bagi saya, mengapa saya yakin saat itu datang kepada persoalan memutuskan hubungan dengan mereka. Pertama, bisa jadi karena mereka tidak menghargai saya, wah, berat ya, bagaimana saya mau menghargai seseorang yang terang terangan tidak menghargai saya.


Alasan kedua bisa karena ketidak cocokan karakter, anda orangnya kalem, tenang.. lembut dan bergerak secara perlahan, namun dia orangnya terlalu aktif, terlalu grasa grusu, dan terlalu merusak ketenangan yang anda pegang selama ini, betul, ketenangan adalah apa yang anda refleksikan saat anda hidup.. atau bisa jadi karena dia tidak memanjakan anda, tidak mendamba anda, menyusahkan anda dengan sifat posesifnya, dan hal hal lain yang bikin anda mual.


Jadi jika beberapa hal seperti itu tidak anda temukan dalam hubungan anda dengan si dia, anda akan merasa murung, dan anda memutuskan untuk pergi secepat mungkin, atau mundur secara teratur. Anda bisa saja cekcok terlebih dahulu, anda bisa saja menjadi marah terhadapnya, sebuah kemarahan yang sebetulnya tidak anda rencanakan, namun keluar begitu saja karena mendengar ocehannya yang tidak nyaman didengar oleh telinga anda, saat dia tahu bahwa anda ingin memutuskan hubungan anda dengannya, atau mungkin, anda melihat dia menangis, kemudian ikut sedih.. dan menangis berdua dengan dirinya. Hahah, tidak, saya hanya bercanda untuk yang terakhir itu.


Namun, apakah semua itu bisa membuat anda menjadi leluasa untuk tidak menghargainya? Oh, tentu tidak. Hanya jika anda seorang gentleman, anda akan berusaha untuk tetap menghargai mantan pacar anda, yang nyebelinnya minta ampun, yang bikin anda cepat lelah hati, dan kadang terselip sebuah gengsi yang besar ketika anda harus berurusan dengan dirinya. Sehingga anda ikut ikutan kampanye atau komersialisasi social term, dimana anda ikut menjadi orang menyedihkan yang mengatakan ‘buanglah mantan pada tempatnya’ atau berbagai macam istilah lainnya yang tidak memanusiawikan sang mantan, yang dulu, pernah anda cintai sepenuh hati, setengah hati, atau seperdua hati, mungkin?


Hahah, anda yang atur. So, janganlah begitu, janganlah begitu gengsi dan arogan terhadap orang yang dulu pernah anda cintai. Jadi kalau sekarang anda masih gengsi dan kejam, lebih baik anda tetap begitu begitu saja, atau memilih untuk merubah sudut pandang terhadap suatu masalah, anda memilih sebuah sudut pandang baru yang lebih situasional, dan lebih menguntungkan anda karena sifatnya adaptatif, tentunya. Jadi sekarang, lebih baik anda membuang ke-rigid-an anda di masa lalu terhadap si dia, atau mulai menghargai mantan pacar anda tanpa pandang bulu, tanpa pandang masalah yang sudah berlalu, dan tanpa tembus pandang. Oops, hahahahaha. Paham maksud saya?


Anda mungkin penasaran, mengapa saya dapat berbagi pengalaman seperti ini, karena saya juga sebenarnya sudah mengalami hal ini, saya sudah mengalami bagaimana saya menjadi salah dengan tidak menghargai orang tanpa pandang bulu, dan cara yang benar dengan menghargai orang tanpa pandang bulu, disini konteksnya, adalah mantan pacar saya, sejujurnya, hanya saya yang bertekad memutuskan hubungan kami berdua, namun tidak dengan dia, dia memohon saya untuk tidak mengakhiri hubungan kami karena beberapa hal yang agak rumit untuk saya jelaskan disini. Yang jelas, alasan mengapa saya memutuskan hubungan dengannya adalah bukan karena saya tidak menghargai dia


Namun lebih tepatnya lagi adalah karena saya harus fokus dalam berurusan dengan pencapaian personal saya terlebih dahulu saat itu, dibandingkan harus terlena dalam sebuah hubungan romansa tiada akhir. Betul, prioritas saya saat itu adalah studi saya, yang menjadi pertimbangan mengapa saya harus ‘menunda’ hubungan ini untuk sementara. Dalam menunda itu, anda lihat terdapat tanda kutip bukan? Hahahaha. Saya yakin jika anda cukup dewasa, anda paham maksudnya, jika anda belum paham, anggap saja anda paham makna tersembunyi dibalik tanda kutip itu. At last saya menghargai dia sebagaimana saya menghargai semua orang, apa susahnya sih, menghargai seseorang?


Dengan tidak mengacuhkannya saja, anda sudah menghargai dia, dengan menyimaknya saat dia berbicara dan malah bukan asik bermain dengan gawai atau ponsel pintar anda, anda sudah menghargai seorang manusia tanpa pandang bulu, tanpa gengsi, dan tanpa ba bi bu sama sekali, entah itu mantan pacar anda, ibu anda, boss anda, atau siapapun itu. Well, entah kenapa, saya jadi mengingat mantan pacar saya, saya ingat beberapa pekan lalu dia mengirimi saya sebuah artikel yang ditulis oleh dirinya sendiri via surel, saat saya selesai membaca artikel miliknya, saya benar benar terkesima. Saya benar benar speechless, saat itu saya sedang kongkow dengan beberapa teman di venue yang biasa saya kunjungi. Lalu mereka bertanya


“Hey, kamu kenapa, kok tiba tiba bengong sendirian?”

“Nggak, barusan aja, lagi mikir sebentar.”


Mikir sebentar disitu sesungguhnya adalah decak kagum saya terhadap si dia, yang rupanya, memang masih sama, dia masih persis seperti saat kami berpacaran dulu, dia memang pintar, absolutely a clever girl. Sesekali, kami masih sempat bertemu untuk sekedar makan malam, meskipun dalam perasaan saya terhadapnya sudah tidak seperti dulu lagi, saya masih saja tetap tersenyum menanggapinya… mendengarkan beberapa ceritanya tentang apa yang dia rasakan belakangan ini, bagaimana perkembangannya, meski di akhir perbincangan dia memutuskan curhat mengenai perasaannya terhadap saya. Saya hanya perlu mengapresiasinya secara wajar dan mudah. Saya hanya perlu menghargainya.



Tova Tzipor Ahath Bayad Mishtayim Al Ha'etz
Regards, Naufal Rangkuti

Comments

Popular posts from this blog

Daftar Putar Musik

Are You Introverted? Here's Point To Ponder.

Introversion is at its root a type of temperament. It is not the same as shyness or having a withdrawn personality, and it is not pathological. It is also not something you can change. But you can learn to work with it, not against it. The strongest distinguishing characteristic of introverts is their energy source: Introverts draw energy from their internal world of ideas, emotions, and impressions. They are energy conservers. They can be easily overstimulated by the external world, experiencing the uncomfortable feeling of “too much." This can feel like antsyness or torpor. In either case, they need to limit their social experiences so they don’t get drained. However, introverts need to balance their alone time with outside time, or they can lose other perspectives and connections. Introverted people who balance their energy has perseverance and the ability to think independently, focus deeply, and work creatively. What are the most obvious characteristics of ex...

Believe me, I've been going through this life.

Yes, I've been going through this life. Being a counsel isn't easy. Being as an infj, on the beginning, felt too hard for me. Believe me, I try. But often life must go on. Something like love, relationship, my personal growing history has become an enormous thing to have in me. I've cited some quotations of life. The best of it, the number one from Mr. Benjamin Franklin. Theodore Roosevelt, Mr. Jacques De Molay and many historical figures. Believe me, I've been going through this life. I have my first crying moment, my first perspective on myself. I have my first contemplating session only with myself. Well sometimes normally, I miss being around with my old pal in the children psychology class. The occupation teacher and tutors. Especially rucita. Yet so far, I've been going through my teenage times too. I get a crush on a girl. I remember sitting on a veranda with glo, my first girlfriend. Making her laugh, tickle her, entertain a lot. And what I got is, I t...