Skip to main content

Naufal Rangkuti - Smooth Contemplation










Seperti yang bisa diketahui, saya memiliki tendensi untuk menyimak, mendengar dan mengamati terlebih dahulu dalam hal yang saya temui, dibandingkan dengan menimpali suatu topik / pembahasan dengan argumentasi yang tidak berbobot dan tidak jelas darimana. Saya memilih untuk menenangkan diri dan mengolah sesuatu terlebih dahulu. Karena jika ketawan bahwa pribadi ini adalah tong kosong nyaring bunyinya, saya bisa malu, lho.

Intinya adalah simpel, karena gaya konsumsi setiap individu adalah unik. Pada beberapa individu, boros menjadi hal yang biasa dilakukan. Pada individu lainnya, hemat adalah hal yang harus dibiasakan karena mereka hanya cukup tahu fondasi utama dan dasar dari cara mengatur keuangan secara baik dan benar, sehingga mereka cenderung untuk tidak konsumtif. Dalam pandangan saya yang bersifat subjektif ini, saya memilih untuk tidak konsumtif.


Bagi saya, gaya hidup adalah nomor kesekian. Kebutuhan, dengan pengelolaan multi tujuan bulanan yang bersifat kritis seperti sembako, peralatan mandi seperti sabun dan lain lain adalah hal yang lebih perlu diutamakan. Pembayaran polis asuransi jiwa, autodebet pada reksadana, pembelian beberapa lot saham jika memungkinkan, dan penambahan saldo kedalam akun sekuritas saya adalah apa yang lebih saya rela dan perlukan di setiap awal bulan. Pasalnya, saya memiliki perencanaan untuk membangun pilar kehidupan saya lebih banyak lagi.


Tentu, hal itu adalah hal yang perlu dipenuhi terlebih dahulu, terlebih lagi bagi diri saya pribadi. Jadi di kepala saya, tidak ada gambaran untuk pergi ke mall dan berbelanja, pergi ke hang out place, minum minum, wine tasting, dan menghabiskan uang untuk hal demikian, meskipun saya memang cinta banget, saya menahan hal tersebut karena saya tahu yang dibutuhkan dan mana yang diinginkan. Bagi saya, gaya hidup hanya akan saya penuhi dari hasil pertumbuhan dari berbagai macam aset yang saya tanamkan, baik itu di pasar modal, pasar tradisional, atau pasar pasaran, he, yang terakhir bercanda.


Intinya, saya hanya akan memiliki toleransi untuk gaya hidup hanya jika interest yang tumbuh dari aset aset saya sudah jauh melebihi target yang saya rencanakan. Mengapa perlu perhitungan? Tentu saja perlu.

"Perhitungan yang matang dan perencanaan secara bertahap dan berulang ulang merupakan kunci keberhasilan dari pengelolaan keuangan pribadi."

Naufal Rangkuti 


Ibunda saya boleh pandai mencari dan melipat gandakan uang, tetapi apakah ibunda pandai dalam menahan nafsu dan keinginannya dalam menggunakan dan menghamburkan uang? Saya tahu ibunda pandai menjaga uangnya. Begitupula dengan saya, akan sangat disayangkan apabila saya tidak pandai menghargai uang. Talmud mengatakan uang adalah alat untuk membangun pilar kehidupan, gunakanlah uang seefektif mungkin dalam kehidupan.


Dalam subjektif saya, berbicara gaya hidup juga terkadang berbicara tentang ukuran standar pada pribadi saya. Jika berbicara tentang gaya hidup dan standar saya, sudah tentu beberapa pendengar akan meregang nyawa, begitupula dengan saya. Karena sejak kecil saya dididik tumbuh mewah. Mengajarkan behavior OKK dalam menanggapi finansial personal kepada anak adalah hal yang sangat tidak disarankan. Contoh, bapaknya berganti ganti mobil tiga kali dalam setahun. Bapak membeli mobil, walau sudah punya motor, bapak tetap membeli motor, walau sudah punya sepeda.


Jika dilihat, semuanya memiliki fungsi yang sama sederhananya untuk sehari hari, transportasi. Jika satu sudah terpenuhi, untuk apa beli tiga tiganya? Kini untungnya, semakin saya tumbuh besar, semakin saya berpikir dewasa, maka semakin saya menyadari, bahwa tidak ada kepuasan batiniah dari yang timbul dari materi materi yang ingin dibeli tersebut. Jika fungsi dasar sudah terpenuhi, tidak akan ada hal lain yang perlu dibeli lagi.


Jika dalam satu bulan bisa menghabiskan ratusan juta rupiah untuk pergi menikmati konser jazz di new york, membeli satu setel armani edisi musim gugur di butik kenamaan dan berjalan jalan menaiki rolls royce dengan seorang chauffeur tetapi tidak memuaskan batin sama sekali, untuk apa? Prestis itu sebuah ilusi yang sempurna. Jika disini konteksnya untuk memenuhi fungsi, saya akan kembali ke nilai nilai dasar yang memenuhi hal tersebut. Yaitu kebutuhan yang bersifat kritis, seperti fungsi.


Jika pun ingin memenuhi kebutuhan batiniah, saya akan memberi sesi penyegaran yang gratis dan mudah dicari untuk otak saya, saya akan membaca beberapa buku yang menarik, berjalan jalan di taman yang asri, dan menikmati beberapa hidangan yang segar serta sehat.  Saya terkadang cukup sering memikirkan hal ini, bahwa nampaknya dengan mencari hiburan yang berbayar seseorang akan menjadi lebih bangga, terhibur. Padahal perasaan perasaan tersebut sangatlah bersifat sementara.


Semakin saya jauh berpikir kedepan, semakin saya menyadari bahwa manusia itu adalah mahluk akumulasi, manusia bisa bosan terhadap sesuatu, ketika melupakannya, bosan itu akan hilang, dan manusia bisa melakukan hal itu lagi. Kini, terlalu banyak kebahagiaan manusia akan bosan, begitupula dengan terlalu banyak kesedihan, manusia mahluk yang gampang bosan. Dengan bosan itu, manusia menjadi haus akan sesuatu yang belum pernah dicobanya. Dengan keadaan seperti itu, manusia harus paham betul batasan batasan dalam kehidupannya, karena jika melakukan sesuatu terlalu berlebihan, hal hal yang tidak baik akan terjadi.


Saya sering membandingkan diri saya dengan orang yang sakit parah, serta orang orang yang memiliki uang sedikit karena selalu boros, saya membandingkan diri saya dengan mereka, kemudian saya bersyukur. Saya berusaha untuk memahami dan menganalisa rekam jejak keuangan saya secara bertahap dan rutin, meski tidak ketat, saya selalu mengoreksi pergerakan keuangan saya. Saya memperbanyak diri untuk membaca, karena hal ini baik dalam memperluas wawasan saya, saya banyak membaca, baik kitab petunjuk, surat kabar, atau media media yang memberikan sajian informasi seputar kehidupan. Dengan demikian, saya menjadi tanggap terhadap nada nada kehidupan.


Uang memang membutuhkan penyesuaian dalam setiap aspeknya. Hidup di negeri yang amburadul ini memang tidaklah mudah, harga dari benda apapun bisa seperti orang yang sedang dugem hingga mabuk tak sadarkan diri, ketika pagi tiba, barulah tersadar diri. Tentu, hal ini membuat saya menyipitkan mata sesipit sipit mungkin karena saya selalu malu akan kebodohan kebodohan ini. Kadang, rumor dan tawa pedas yang terjadi dimana mana bisa menjadi secangkir kopi pahit di pagi hari saya. Apakah saya suka hal pahit atau menjadi pahit? Tentu saja jawabannya adalah tidak, oleh karena itu saya selalu mengantisipasi setiap hal nya dengan penuh antusias.


Jadi, tetaplah bijak dalam mengatur keuangan personal, Naufal Rangkuti.


OKK: Orang Kaya Kampungan

Comments

Popular posts from this blog

Daftar Putar Musik

Are You Introverted? Here's Point To Ponder.

Introversion is at its root a type of temperament. It is not the same as shyness or having a withdrawn personality, and it is not pathological. It is also not something you can change. But you can learn to work with it, not against it. The strongest distinguishing characteristic of introverts is their energy source: Introverts draw energy from their internal world of ideas, emotions, and impressions. They are energy conservers. They can be easily overstimulated by the external world, experiencing the uncomfortable feeling of “too much." This can feel like antsyness or torpor. In either case, they need to limit their social experiences so they don’t get drained. However, introverts need to balance their alone time with outside time, or they can lose other perspectives and connections. Introverted people who balance their energy has perseverance and the ability to think independently, focus deeply, and work creatively. What are the most obvious characteristics of ex...

Believe me, I've been going through this life.

Yes, I've been going through this life. Being a counsel isn't easy. Being as an infj, on the beginning, felt too hard for me. Believe me, I try. But often life must go on. Something like love, relationship, my personal growing history has become an enormous thing to have in me. I've cited some quotations of life. The best of it, the number one from Mr. Benjamin Franklin. Theodore Roosevelt, Mr. Jacques De Molay and many historical figures. Believe me, I've been going through this life. I have my first crying moment, my first perspective on myself. I have my first contemplating session only with myself. Well sometimes normally, I miss being around with my old pal in the children psychology class. The occupation teacher and tutors. Especially rucita. Yet so far, I've been going through my teenage times too. I get a crush on a girl. I remember sitting on a veranda with glo, my first girlfriend. Making her laugh, tickle her, entertain a lot. And what I got is, I t...