
Nampaknya, fakta mengatakan bahwa sudah puluhan tahun saya hidup di dunia ini, menjelaskan bahwa sudah cukup bagi saya untuk menyimpulkan beberapa hal mendasar yang menurut saya sangat penting kegunaannya untuk selalu diterapkan kedalam diri ini. Dalam opini saya yang bersifat subjektif ini, jika suatu hal mendasar tidak terdapat pada pribadi seseorang, maka dapat dipastikan dalam opini subjektif saya, saya tidak menaruh jempol pada pribadi tersebut.
Selama puluhan tahun saya hidup, saya telah banyak menyaksikan banyak sekali interaksi antar manusia didalam hidup saya. Saya telah memperhatikan, menganalisa, mempelajari, dan bisa saja mengulanginya kembali saat saya membutuhkan sesuatu untuk diulang sebagai modal pembelajaran jangka panjang yang menjadi prinsip personal diri saya. Saya telah menyaksikan jutaan percakapan, kalimat, kata, nasihat dan segala macam hal yang membuat otak saya harus bekerja secara kontinyu.
Ketika berumur enam tahun, saya
yang masih kecil menyaksikan kedua orang tua saya kerap berargumentasi didalam
interaksi yang mereka berdua sedang lakukan, yakni percakapan dua arah, yaitu
dialog diantara ayah dan ibunda menjadi pembelajaran paling pertama dalam hidup
saya dalam menyaksikan variasi emosi yang dimunculkan dari proses
berlangsungnya sebuah komunikasi antar dua orang manusia dewasa. Sebagai anak
manusia, yakni anak mereka, saya memperhatikan dan mempelajari mereka berdua
langsung pada saat itu juga.
Kala itu, saya terperangkap dalam
wajah bengong, seakan akan disana saya terkaget kaget sedang menyaksikan hal
itu terjadi didepan saya, saya yang terduduk di lantai, bengong memperhatikan
mereka yang sedang beradu argumen mengenai suatu hal sepertinya berhubungan
dengan pekerjaan kantoran ayah saya. Pada bengong saya itu, ada arti bahwa saya
sudah terlalu dalam saat memperhatikan mereka berdua bercekcok begitu seru
didepan saya, sampai mereka berdua pun tidak menyadari adanya kehadiran saya
didekat mereka.
Awalnya, saya merasa sakit ketika
mereka beradu argumen, bahkan ketika bengong pun, saya sebagai seorang anak
yang tidak ikut masuk kedalam percakapan mereka berdua, merasa ada hal yang
tidak enak rasanya timbul dari dalam pikiran dan hati ini, rasanya memang
sakit, bukan aneh, tetapi sakit, seperti agak perih, mendengar sentakan
sentakan yang diucapkan oleh salah satu dari mereka berdua. Dengan demikian,
saya menangkap sekaligus mempersepsikan bahwa stimulasi emosi yang mereka
hasilkan adalah tidak nikmat saat mereka sedang beradu argumentasi.
Ayah membentak bunda, demikian
pula saat ibunda membentak ayah, ada intonasi suara yang berbenturan yang
muncul dari mereka berdua saat hal itu terjadi, bahkan sampai tabrakan suara,
weleh weleh. Lalu, beberapa menit kemudian, suasana mulai mereda. Kini, hanya ada
ayah yang berbicara dan bunda yang mendengarkan. Well, ketika suasana saya rasa
mulai menjadi tenang, tanpa saya sadari pula, saya yang tadinya amat sangat
bengong, kini berubah seketika.
Secara otomatis, saya menjadi
serius, karena saat suara yang dihasilkan dari interaksi kedua orang tua saya
ini mengecil, saya menambah daya konsentrasi saya agar dapat menangkap lebih
jauh lagi tentang apa yang mereka bicarakan. Kini, saya melihat sekaligus mendengar
bahwa bunda mengalah atas argumentasi ayah, saat itulah, saya menganggap bahwa bunda
sedang melakukan hal paling profesional yang pernah saya lihat, hal yang
membuat saya menjadi konsen sekaligus merasa nyaman ketika memperhatikan mereka
berdua berkomunikasi layaknya orang waras.
Betul! Kini bunda sedang MENYIMAK ayah berkata – kata, entah
mengapa, kini ada suatu perasaan kecil yang timbul dari dalam pikiran dan hati
saya yang terdalam bahwa bunda lah yang menjadi raja dari interaksi yang ia
lakukan ketika berinteraksi dengan ayah. Dan ada perasaan yang nikmat yang
timbul dari menjadi orang yang menyimak apa yang orang lain katakan, tidak
peduli apakah itu ocehan yang bernada atau berintonasi tinggi, atau rendah.
Kadang tidak penting juga tentang
apa yang menjadi maksud dari yang dibicarakan oleh orang yang mengoceh. Dengan
menyimak, bunda seolah olah menjadi konselor atas diri dia sendiri dan atas
diri orang yang ia dengarkan ocehannya. Sama hal nya dengan apa yang saya
lakukan sekarang. Maka, dengan menyimak saya menjadi profesional, dengarkan dan
simak saja apa yang mereka bicarakan. Tak perlu mengadu tentang apa yang saya
pikirkan untuk menjadi sebuah pertentangan atas apa yang lawan diskusi saya
lontarkan.
Jadi mulai sekarang, menyimaklah. Dan simaklah siapapun itu,
mengenai masalah dari apa yang saya simak akan saya gubris atau tidak adalah
hal yang lebih lanjut daripada pembahasan kali ini. Well, kini, simaklah dengan
tenang, baik itu bos anda yang senang mengoceh tentang kesalahan anda, curahan
hatinya yang mendadak, guru anda yang senang menyalahkan sambil mengoreksi anda,
atau orang tua anda yang memberikan nasihat, saran dan kritik kepada anda.
Karena ada beberapa nasihat dari sejarah tua yang mengatakan, simaklah
seseorang hingga orang itu memutuskan untuk pergi meninggalkan anda.
Atau beberapa nasihat mendasar
yang mengatakan, simaklah seseorang, jangan potong apa yang ia katakan hingga
ia mempersilahkan diri anda untuk menyampaikan pembicaraan sambungan. Butuh
berbulan bulan bahkan hingga belasan tahun untuk menjadi seorang lelaki alfa
yang bijak dan kokoh dalam menyimak, tetapi jika ada yang bisa melakukannya
dalam hitungan detik, menit atau jam, baguslah, karena seperti yang saya
ketahui, proses menyimak secara berkelanjutan itu bukanlah hal yang gampang.
Saya tidak menyelenggarakan
pelatihan khusus untuk melatih diri orang lain pandai dalam menyimak, saya
tidak. Mulailah dari diri sendiri, saya pun begitu, saya memulai dari diri saya
yang pernah kecolongan memotong pembicaraan ayahanda, akhirnya dia menjadi
tegas dan mengatakan hal yang cukup menekan saya, ”Tolong jangan potong apa yang ayah bicarakan, mengerti kamu?!”
Benar benar kiamat, memotong pembicaraan orang yang sedang berbicara kepada
kita adalah haram hukumnya, apalagi jika orang itu adalah orang tua kita.
Sama hal nya dengan orang lain,
baik yang sudah tua maupun yang masih muda, dengarkan saja, beri mereka
kesempatan mengoceh, entah itu mau menghina, mengkritik, memberikan saran atau
apapun, biarkan mereka meluapkan dan mengungkapkan emosi dalam kehidupan ini.
Ocehan mereka tentu saja beragam macamnya, ada yang berharga, ada yang tidak.
Beberapa orang juga mengatakan bahwa diam adalah emas, maka alangkah lebih baik
lagi jika sudah diam, dilakukan dengan sambil menyimak apa yang dilihatnya itu.
Dengan menyimak saya menjadi
seperti seorang konselor yang profesional, dengan menyimak saya menjadi seorang
karyawan yang menghargai bapak direktur yang terhormat, dengan menyimak saya
menjadi wakil rakyat yang rupanya memang benar benar mendengarkan apa yang
diinginkan oleh rakyat. Dengan menyimak saya menjadi seorang anak yang baik dan
patuh kepada orang tua saat diberikan nasihat oleh orang tua. Dengan menyimak
saya menjadi tahu apa yang sebelumnya saya tidak tahu, bahkan, dengan menyimak
dan memprosesnya, saya menjadi waspada akan apa yang dikeluarkan oleh lidah
seseorang.
Dengan menyimak, saya menjadi
selektif, dengan menyimak, saya menjadi orang yang disukai oleh pasangan saya,
ingat, wanita cantik yang seksi dan penuh gairah akan sangat senang apabila
lelakinya pandai menyimaknya dan pandai menanggapi apa yang biasanya jadi
ocehan ocehan pelik yang menjadi permasalahan hatinya, baik itu mengenai diri
saya, anda, atau mengenai diri lelaki lain. Jadi saya tidak akan berharap diri
saya tidak akan dikelilingi oleh wanita wanita yang muda, cantik, dan seksi
kalau saya saja belum pandai menyimak apa yang mereka bicarakan.
Dengan menyimak, saya menjadi
bijak dan arif, dengan menyimak, saya menjadi raja, dan bukan menjadi budak
yang dicambuk karena terlalu hiperaktif. Dengan menyimak, saya tahu bagaimana
caranya mengalah untuk menang, dengan menyimak saya dapat menyaksikan bagaimana
sesuatu akan berlangsung kedepannya, dengan menyimak, setidaknya, saya dapat
merencakan sesuatu yang amazing dan prospektif. Dengan menyimak, saya menjadi
seorang introvert yang berkelas, dengan menyimak, saya menjadi mahasiswa yang
mendapatkan materi yang diterangkan oleh dosen pada kuliah pagi ini.
Rupanya… menyimak sesuatu dengan
khusyuk itu adalah sesuatu yang amat sangat nikmat, tidak tergantikan
kepuasannya. Bagai menemukan sumber mata air di tengah tengah gurun kalahari,
bisa anda bayangkan hal itu? bisa anda resapi hal itu? dan… bisakah anda simak
hal itu? Tentu anda bisa, saya yakin anda pasti bisa, karena jauh didalam diri
anda yang terdalam, ada sesosok penyimak yang visionaris dan ambisius yang
dapat mengolah seisi dunia ini hanya didalam dan melalui otak anda saja.
Bagaimana, suatu hal yang canggih, dan hal itu hanya bisa terjadi hanya ketika
anda menyimak, lho. Jadi… jika anda belum menyimak, lebih baik lupakan saja
kehidupan.
Jika saya, atau bahkan anda,
masih jadi orang yang keras kepala, egois, namun egois nya salah tempatnya,
tentu saja akan merasa bahwa hidup adalah sia sia saja untuk dijalani. Jika
saya masih memotong pembicaraan, jika saya masih mencak mencak dan ngamuk di
televisi untuk memperdebatkan keadaan yang disebabkan oleh krisis ekonomi
negara dan lain sebagainya. Sebaiknya saya mulai menyimak. Sebaiknya saya mulai
memelankan detak jantung saya dengan menyimak.
Simak… nikmati dunia yang
perlahan mulai hancur ini… simaklah, nikmati masa masa indah saat sejarah
kehidupan pertama kali diceritakan. Simaklah sebuah awalan, maka simaklah juga
sebuah akhiran. Mulailah dari menjadi seorang penyimak amatir, kemudian
berlanjut hingga menjadi seorang penyimak yang profesional. Tumbuh dan
berkembanglah dari informasi informasi yang diserap dan diolah dengan cara
menyimak, atau, perbaikilah apa yang kurang dari dan dengan cara menyimak itu
sendiri.
Simaklah sebuah musik, lagu, atau
instrumen yang menenangkan jiwa, berpikirlah dalam dalam dan jauh. Berkelanalah
dalam… simakan anda yang begitu intensif. Ah, saya ada saran, bagaimana jika
kita mendengar dan menyimak musik dari thomas newman yang berjudul hauntingly
beautiful, anda bisa mendengarkannya di situs interaktif bernama youtube.
Well, bagaimana, siapkah anda
untuk bersikap profesional dengan menyimak?
Tsoheq mi shetsoheq aharon
Naufal
Rangkuti
Comments
Post a Comment
Please don't hesitate to give a comment.