Skip to main content

Naufal Rangkuti - Audiophile: An accurate scale for tastes

Dalam kamus kehidupan saya, ada beberapa keinginan dan hobi yang memang memerlukan saya untuk lebih banyak menabung ketika berurusan dengan kasus kasusnya. Menjadi audiophile tidaklah mudah, dan perangkat audio, contohnya. Juga bukam hal yang gampang untuk dimiliki. Beberapa pria memang kerap ditemukan memiliki selera berlebih terhadap sesuatu hal, begitupula dengan saya untuk hal ini. Bagi saya, busana dan penampilan tidak perlu mahal, yang penting adalah ukuran yang tepat dan kerapihan busana si pemakai. Dan memang karena aspek busana memberikan saya toleransi yang begitu besar didalamnya. Sering saya temukan, sebuah secondhand suit dari london, yang masih sangat berkualitas namun dengan harga yang sangat miring. See? Saya bisa membelinya via eBay.


Tapi kalau untuk suitsupply, (sebuah produsen jas) saya rela, spend more money, atau kalau untuk kemeja arrow yang legendaris itu. Tapi ya memang tidak terlalu banyak juga.. Secukupnya saja. Sama hal nya dengan jam tangan, saya memakai entry level seiko pun sudah tidak rewel, dan memang cenderung tidak rewel pada aspek ini. Dengan beberapa juta saja saya sudah mantap menggunakan seiko. Nggak pengen juga, beli jaeger atau audemars. Is it, for what? Nah, kelihatan kan saya memang tidak terlalu hobi pada kedua aspek ini.


Namun.. Hal ini akan menjadi sangat jauh berbeda ketika berhubungan dengan gigs audio atau perangkat audio yang saya gemari. Bagi saya, karakter detail, deep dan separation yang jelas antar suara instrumen yang terdapat dalam sebuah musik adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Ketika berbicara tentang hal ini, sudah tentu, berbicara juga tentang produk audio dengan kualitaa mumpuni dan menghadirkan fitur seperti selera yang saya inginkan.

Bagaimana cara saya membandingkan dan menemukan selera saya pada sebuah produk audio. Caranya memang tidak gampang, saya perlu datang dulu ke studio, kemudian mengamati dan melihat prosedur yang dijalankan pada saat sebuah lagu sedang diciptakan. Pokoknya, proses menjelaskan nya cukup panjang dan juga cukup rumit, saya pikir. Dengan demikian, saya akan mendengar suara asli si lagu tersebut sebelum akhirnya dimuat dan dijadikan sebagai sebuah musik berformat digital.


Seperti lossless audio, seperti flac, hingga mp3 dengan kompresi data yang sungguh matian. Jadi, suara asli dan kenikmatan aslinya tentu saja hilang, detail tidak terasa terdengar, dan beberapa hal lainmya yang sedikit mengecewakan. Nah, dalam produk untuk mendengar audio pun, hukumnya masih sama seperti ini. Produk audio juga sama, memiliki level levelnya. Mulai dari entry level, hingga high end audio device. Kalau saya jadi audiophile bukan karena ditulari atau diajak oleh rekan saya agar menjadi seperti demikian, maka waktu itu, waktu saya masih kecil. Saya secara tidak sengaja, menyentuh, dan memakai sebuah alat, yaitu earphone, dengan digital audio player, amplifier dan beberapa macam tetek bengek yang lainnya. Saat itu, saya sedang berkunjung kedalam sebuah studio milik ayah teman saya.


Seperti lupa dunia, saya terhanyut begitu nikmat ketika mendengarkan musik didalamnya. Sebuah alat bernama jerry harvey audio dengan DAP bernama hifiman dan entahlah, amplifier nya saya lupa apa namanya itu sungguh membuat saya tidak pernah lupa ketika pertama kali merasakannya, bahkan sampai sekarang, saya masih ingat rasanya. Perlahan, saya berjalan kearah ayah teman saya, karena memang beliau bekerja di studio karena dia adalah semacam digital composer, kira kira seperti itulah pekerjaan beliau.


Kemudian saya bertanya. "Om, ini apa? Kok saya dengar miles davis disini nikmat sekali rasanya."
"Wahahahahahaha, kemudian beliau tertawa lebar, kamu baru saja kena racun, hahahahaha. Itu namanya audio device. Itu punya om, sudah lama belinya."


"Wah.. Ini dipakai buat apa om? Hanya untuk menikmati musik saja?"


"Nggak naufal, nggak cuma itu saja. Untuk tuntutan pekerjaan, om memang butuh alat alat itu untuk me review ulang musik yang sudah om buat agar lebih jelas mengetahui dimana letak kelebihan dan kekurangannya."


From those day, i had not try any kind of audio device anymore. Industri peralatan audio yang begitu pesatnya berkembang tanpa saya sadari sepenuhnya. Satu hal yang saya lupa waktu itu, adalah menanyakan harga alat alat itu kepada ayah teman saya yaitu, si om. Saat sudah besar, saya tahu ada toko toko online yang menjual audio device seperti ini, yaitu hifi audio dan eBay atau amazon. Kalau toko offline di indonesia tentu saja hanya ada beberapa yang saya tahu, seperti jaben, dll.


Maka saat saya mencicipi apple ipod, saya tahu rasanya, ipod itu lumayan enak suaranya, dengan wolfson audio chip nya yang saat itu kayaknya lumayan ngetren, tetapi jika dibandingkan dengan hifiman, sony walkman, atau astell & kern, tentu saja akan kalah sangat jauh. Saya nggak begitu paham detail komponennya pada ipod. Karena saya memiliki tendensi sebagai penikmat musik, dan memerlukan alat audio yang mumpuni sebagai penyalur musik yang nikmat itu tadi. Jadi keduanya akan menjadi jelas saat saya mendengarkannya di kedua kuping manja saya ini.


Menjadi audiophile memang tidak mudah, dalam perspektif dan skala saya, akan membutuhkan sekitar tigapuluh juta rupiah untuk mencapai kepuasan yang abadi. Dengan hifiman, jerry harvey, grado dan alat alat lainnya yang sangat memuaskan sekali. Kamu tidak bisa membayangkannya, kecuali kamu sudah mencobanya.

Comments

Popular posts from this blog

Believe me, I've been going through this life.

Yes, I've been going through this life. Being a counsel isn't easy. Being as an infj, on the beginning, felt too hard for me. Believe me, I try. But often life must go on. Something like love, relationship, my personal growing history has become an enormous thing to have in me. I've cited some quotations of life. The best of it, the number one from Mr. Benjamin Franklin. Theodore Roosevelt, Mr. Jacques De Molay and many historical figures. Believe me, I've been going through this life. I have my first crying moment, my first perspective on myself. I have my first contemplating session only with myself. Well sometimes normally, I miss being around with my old pal in the children psychology class. The occupation teacher and tutors. Especially rucita. Yet so far, I've been going through my teenage times too. I get a crush on a girl. I remember sitting on a veranda with glo, my first girlfriend. Making her laugh, tickle her, entertain a lot. And what I got is, I t...

Personal Flexibility: A series of life events.

The Bureau. I would spend my money for making this services available to me after all the year gone by. So why? I'm sure there must be some reason. Well, I'd fully recommend me the psychologist structured way to overcomes my personal problem. On the beginning, let's make it clear about me whom tend to not pretending that I didn't have a problem, at all. Instead, I have one small problem, and that's the reason. People gonna say that's useless to come to a psychologist, waste of money, bla bla bla. For me, that Psychologist psy degree proves better compared with the people opinions. The occupational therapist helped me to figure out my problem, the thing that I didn't know, they're the expert of various human experience. Now, let me tell you a story. When I was 7 years old, I have a problem in observing too many living aspect in a detailed way, the school, families, friends, and even myself. Yeah, I was overwhelmed by my habit of analyzing too muc...

Daftar Putar Musik