
[ A week of diseases ]
Di kota ini, kepercayaan bahwa dokter bisa menangani dan mendeteksi beberapa macam penyakit nampaknya memang menjadi sesuatu yang umum dipercayai, tapi bagi saya tidak dengan obatnya. Jadi kalau saya pergi ke dokter, itu artinya saya ingin tahu penyakit apa yang saya alami, setelah mendapat resep dokter dan menebus obatnya, saya memang meminumnya untuk pertama kali. Saya minum antibiotiknya dan kemudian saya melanjutkannya dengan meminum ramuan obat dari cina dan arab saudi, yang memang, hanya ramuan itu yang membantu proses penyembuhan saya. Saya agak heran, saya termasuk salah satu orang yang tidak sembuh sembuh kalau disuruh minum obat kimia dari apotek itu, giliran dikasih ramuan mujarab dari cina atau arab saudi, saya sembuh dengan cepat. Mungkin, tubuh saya lebih cocok dengan obat yang berkomposisi lebih natural.
Di lain kata, saya memang punya defisiensi genetik yang dinamakan dengan G6PD, Glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD), sejak kecil, saya punya daftar puluhan jenis obat yang tak mempan sekaligus tidak disarankan untuk dikonsumsi, termasuk anti malaria, paracetamol, analgesik, dan jamu dari jawa. Jadi kalau ke dokter manapun, saya bawa daftarnya, sekarang daftarnya sudah dalam format PDF, dan sang dokter pun terkadang berbeda beda reaksinya, ada yang kaget, ada yang semacam "Oalah..." dan ada yang senyum dan kagum, karena memang penderita G6PD cukup jarang, dan mereka para dokter itu, akan menjadi sangat berhati hati dalam memberikan saya antibiotiknya, kalau bisa, saya selalu mendapatkan antibiotik buatan impor, atau antibiotik yang sesuai dengan daftar G6PD saya.
Ibu selalu menyebut saya si anak mahal, karena sejak kecil karena saya membawa defisiensu G6PD ini, saya harus melakukan proses transfusi darah, dengan sefala macam jaruh di otak say dan lampu yang daya sinarnya lumayan tinggi, memang biayanya tidak murah, serta taruhannya memang hidup dan mati. Beberapa tahun kebelakang saya merasa perlunya asuransi kesehatan, tapi dokter mengatakan saya hanya perlu mengatur jenis makanan nya saja. Jangan sering sering jajan ke dokter, gak baik, begitu kata dokter saya itu.
Beberapa dokter memang cantik, and yes, itu salah satu alasan mengapa saya suka berkunjung ke dokter sesekali saja, dilansir dari dokter langganan saya, salah satu bagian yang paling sensitif dari tubuh saya adalah bagian pencernaan, bukan karena G6PD, namun karena pencernaan saya memang lemah, jadi, saya tidak bisa memakan menu sunda buhun atau makanan tradisional lainnya. Saya tidak bisa makan sambal, santan, ayam yang dibeli di pasar tradisional, dan harus dibeli dari supermarket, dan saya tidak bisa makan yang asam asam. Tidak bisa minum kopi, teh, atau susu yang mengandung kadar laktosa yang tinggi. Bila dikata menyedihkan, hal ini memang agak sedikit menyedihkan, tapi, mau bagaimana lagi, jadi nampaknya saya secara tidak langsung memiliki desain pencernaan yang hanya dapat memproses jenis makanan simpel, seperti : tempe goreng, tahu goreng, sayur kacang merah, telur, sayuran dan makanan yang minim akan bumbu dan rempah rempah yang mengandung asam yang tinggi.
Hal itu juga merupakan salah satu penyebab mengapa saya sering mampir ke warteg, dan membayar paling murah, sudah makan sedikit, yang dimakannya itu itu lagi, ya biarlah, daripada sakit. Namun herannya, perut saya juga tidak pernah bermasalah jika mengkosumsi keju Swiss, Belgian chocolate or sorbet, anything like ravioli, risotto, beef pork belly with England butter, Italian pizzas, Spanish wine, something like shiraz carbenet, as long as it use butter or smell beautifully, i can go for it, especially American cheeseburger. Tapi, saya juga tidak merasa bahwa diri saya harus sering memakan makanan tersebut, bukan karena tidak punya uang, lebih tepatnya lagi karena tidak sehat saja. Bicara tentang sehat, minggu ini saya rupanya harus jatuh sakit, sakit apa? Sakit amoeba dysentery, apa penyebabnya? Tentu saja, makanan, saya terpaksa memakan semacam ayam mati kemarin yang dibeli ibu di pasar tradisional karena ibu kekeuh dengan menu nya itu, so untuk mengapresiasi masakan buatan ibu, saya mencobanya, dan tentu saja ayam mati kemarin yang tidak saya ketahui sebelumnya itu, adalah penyebab mengapa saya sakit.
Meskipun saya sakit, saya hanya perlu beristirahat total di musim penghujan yang dingin ini, dan meminum obat natural yang biasa saya konsumsi. Jika sudah sembuh, barulah saya bisa beraktivitas kembali seperti normalnya lagi. Ketika saya sakit, satu hal yang selalu saya sadari adalah, investasi kesehatan itu penting, hal hal seperti ini bisa dimulai dari rajin berolahraga seperti bersepeda, dan mengantipasinya dengan menyediakan suplai obat pada tempat tempat yang dibutuhkan ketika hal darurat terjadi, dan saya paham, bahwa peran asuransi kesehatan juga menjadi penting jika hal seperti ini terjadi. Jikapun saya harus rawat inap, lebih baik mengandalkan klaim asuransi, daripada ribet mengurusi kesana dan kesini, karena faktanya biaya rawat inap di rumah sakit borrome*s juga tidak murah.
Jadi, adakalanya pernyataan bahwa sakit tidak harus selalu pergi ke dokter itu benar, karena cobalah dulu ramuan obat mujarab langganan kita sebelum datang dan menemui dokter, apabila sakit berlanjut dan semakin parah, barulah kita sapat pergi menemui dokter, dan meminta saran serta resep obat termasuk antibiotik yang nanti akan diberikan oleh si dokter. Karena kita selalu tahu, bahwa sehat itu mahal harganya, dan tidak mudah menjaganya apabila kita tidak memiliki komitmen untuk membuatnya menjadi bagian dari diri kita.
"I often found, that a healthy person is taking higher percentage in enjoying their life."
Naufal Rangkuti
Comments
Post a Comment
Please don't hesitate to give a comment.