Bagi beberapa orang, mereka mungkin tidak merasakan bahwa terjadi banyak sekali perubahan pada jaman dan rutinitas kehidupan yang selalu kita semua jalani sehari hari. Namun bagi saya, itu terasa dengan efektif dan tampak begitu jelas menghampiri.
Mau tidak mau, ketika tahun demi tahun mulai berganti, tren dan mode membentang luas bagaikan posisi birunya awan sunyi, maka kehidupan memang perlu disadari dengan lebih seksama lagi.
Namun dibalik semua itu, masing masing tentunya memiliki taste sensasi tersendiri, ada pahit, asam, dan ada manis disaat mengalaminya masing masing.
Ya, begitulah cara jaman selalu berlanjut, sesuatu yang tak alang kepalang pun kerap membuat orang orang banyak sekali berubah dalam mensikapinya.
Meskipun terkadang kita sudah menemui satu titik dimana kita merasa amat sangat nyaman dengan periode situasi kehidupan kita, mulai dari teman, keluarga, rumah, sekolah, kelas tambahan dan peran peran penting selama kita masih menjadi sosok seorang profesional muda seperti ini.
Ya, ini menyangkut seluruh bagian kehidupan sosial interaksi kita juga.
Dulu ingat, di masa remaja awal, saya memiliki banyak sekali teman bermain yang selalu menyenangkan, jumlahnya pun tidak kurang kurang jika dihitung dengan jari, 30 orang teman sangat dekat, 35 orang teman cukup dekat, dan ratusan teman sisanya lebih banyak lagi.
Mereka biasanya anak anak frankie midnight, kita bisa saja menyebut itu sebagai teman teman chill out saya saat dentang jam mulai menunjukkan pukul satu pagi dini hari. Kami semua selalu bertumpu kaki di vinotti living dan daerah sekitaran jalan riau kota Bandung.
Ngomong ngomong, dari semua ragamnya teman itu saya mempunyai teman/sahabat terbaik yang pernah saya miliki, salah satunya bernama rucita. Waktu itu umur saya masih tiga belas tahun, katanya menurut banyak orang orang adalah apapun yang berkaitan dengan angka tiga belas, hidupnya pasti selalu horror.
Dan mendapati banyak sekali kesialan. Tapi kayaknya semua itu cuma takhayul dan enggak ada pengaruhnya untuk hidup saya, friends. Karena saya punya rucita uhuhuhi.
Untuk readers yang memiliki pertanyaan, kenapa saya selalu se verbal ini dalam berbahasa dan menyampaikan segala sesuatunya. Kenapa saya tidak berbahasa yang agak sedikit weird'o atau lain lain, tapi kita bisa bahas itu nanti atau kapan kapan, ya tentu saja selalu ada akar sebelum pohon pernah terjadi.
Baiklah, sebelum kita memulai banyak cerita tentang rucita,
Perkenalan saya dan rucita dimulai pada kelas tambahan eternal choir concordia. Setelah berkenalan, saya mengalami fase magnetik setiap kali mendekati anak imut itu, saat menemukannya sedang bermain piano dibalik jendela rumah kebun, rasanya seperti suatu keajaiban yang begitu selaras selalu menarik saya untuk menerima beberapa skenario visualisasi ke arah dirinya. Entah kenapa, saya ada sesuatu yang mendorong untuk diobrolkan bersamaan di momen tersebut, maka dimulailah obrolan saya berdua bersama rucita.
Saya : "Set nada mozart diminished nya bagus."
Rucita : "Oh ya? seberapa bagus?"
Saya : "Approximately bagus, Rucita huh?"
Rucita : "Yes!"
Waktu demi waktu berlalu sejak percakapan pada hari itu, musim kepada musim kian datang serta silih berganti. Kami berdua sering meluangkan waktu sambil ngobrol dirumahnya, saya selalu terbuai dengan pemikiran pemikiran cerdas yang disampaikan diantara saya oleh dia. Sambil menikmati bungkusan gemerlap dari hershey's london yang bertaburan di sofa hitam empuknya.
Kami berdua saling menghangatkan badan di perapian dalam rumahnya, hingga lupa bahwa sudah ketiduran di karpet bulu beruang yang mampu menghilangkan perasaan bahwa waktu terus berjalan.
Yang paling saya ingat adalah, perasaan berdegup degup kami ketika membaca buku petualangan huckleberry lalu the jumping devil hingga tamat. Setelah merasa haus, rucita menawarkan sedikit exotic dine dirumahnya dengan berbagi anggur serta melihat bintang oretron hijau sebelum tanggal satu juli benar benar tiba.
Saya pikir, hal ini adalah hal yang begitu romantis untuk dikisahkan kembali. It has been a long time, when we're getting in life together, seeing the stars, ruc.
Saya memperhatikan rucita di setiap kesempatan saya dapat memperhatikannya, sesekali saya menyukai gelak tawanya, dan ucapan yang mengundang rasa penasaran untuk mencarinya lebih jauh lagi.
Seperti disanjung bidadari, menghadapi rucita seperti melihat seseorang yang tulus menerima permintaan pertemanan di masa masa remaja kami berdua, saya teringat sekali, saya menyukai rucita, tetapi tidak mencintainya, itu indah sekali untuk dinikmati, menyukai seorang teman wanita di masa muda.
Ini benar benar serius, karena setiap kali saya menghabiskan waktu bersamanya, perasaan suka itu semakin logis, seperti saya yang berada di samping ia karena itulah gunanya seorang teman yang senang bersuka cita dengan harinya, hari mereka, hari kita berdua.
Pergi berlibur ke pantai berdua, menikmati lembayung dengan memandangi wajahmu yang tidak pernah ada habisnya itu... suatu sensasi yang jauh dari kata klise. Saya bilang ekspressimu memang aerodinamis sekali, entah karena apa alasan bagi diri saya mengatakan satu hal itu kepada kamu, ruc.
Ingat tuh, kita pernah memainkan 1st album nya musik maliq disana, kamu bermain gitar dan saya yang sedang bernyanyi saat kita tahu inilah cara terbaik untuk menghabiskan waktu yang begitu panjang didalam satu hari kita. Lalu menjadi foto genik bersama pada lensa terbaik leica tahun 2000 yang selalu menjadi kesayanganmu itu.
Saya : "Eh, hasil foto nya bagus"
Rucita : "bagus"
Rucita : "Bagus bagus banget!" *Kagum
Saya : "Ruc, kapan hasil fotonya bakalan jelek?"
Rucita : "Ga mungkin jelek naufal, bakalan selalu bagus, kamu kan model, ganteng sih."
Naufal : "Ruc..."
Dan hari hari akhir untuk pertemanan kita pun diwarnai dengan memandangi rintik hujan sendu, yang jatuh di jendelamu, kita bersama mencuri curi untuk membaca majalah playboy kepunyaan kakak di bawah kasur kedua orang tuamu.
Memakai lampu senter untuk melihatnya dengan jelas dan semakin asyik sampai suara cekikikan kita berdua, mungkin menakut nakuti hantu lain yang sedang beraksi. Kalau sudah bosan dan hujan telah hilang, aku dengannya berlomba lomba berlari ke lantai atas untuk memainkan high and dry nya jamie cullum, aku yang menyanyi dan rucita selalu hebat saat memainkan melodi melodi pianonya.
Mau tidak mau, ketika tahun demi tahun mulai berganti, tren dan mode membentang luas bagaikan posisi birunya awan sunyi, maka kehidupan memang perlu disadari dengan lebih seksama lagi.
Namun dibalik semua itu, masing masing tentunya memiliki taste sensasi tersendiri, ada pahit, asam, dan ada manis disaat mengalaminya masing masing.
Ya, begitulah cara jaman selalu berlanjut, sesuatu yang tak alang kepalang pun kerap membuat orang orang banyak sekali berubah dalam mensikapinya.
Meskipun terkadang kita sudah menemui satu titik dimana kita merasa amat sangat nyaman dengan periode situasi kehidupan kita, mulai dari teman, keluarga, rumah, sekolah, kelas tambahan dan peran peran penting selama kita masih menjadi sosok seorang profesional muda seperti ini.
Ya, ini menyangkut seluruh bagian kehidupan sosial interaksi kita juga.
Dulu ingat, di masa remaja awal, saya memiliki banyak sekali teman bermain yang selalu menyenangkan, jumlahnya pun tidak kurang kurang jika dihitung dengan jari, 30 orang teman sangat dekat, 35 orang teman cukup dekat, dan ratusan teman sisanya lebih banyak lagi.
Mereka biasanya anak anak frankie midnight, kita bisa saja menyebut itu sebagai teman teman chill out saya saat dentang jam mulai menunjukkan pukul satu pagi dini hari. Kami semua selalu bertumpu kaki di vinotti living dan daerah sekitaran jalan riau kota Bandung.
Ngomong ngomong, dari semua ragamnya teman itu saya mempunyai teman/sahabat terbaik yang pernah saya miliki, salah satunya bernama rucita. Waktu itu umur saya masih tiga belas tahun, katanya menurut banyak orang orang adalah apapun yang berkaitan dengan angka tiga belas, hidupnya pasti selalu horror.
Dan mendapati banyak sekali kesialan. Tapi kayaknya semua itu cuma takhayul dan enggak ada pengaruhnya untuk hidup saya, friends. Karena saya punya rucita uhuhuhi.
Untuk readers yang memiliki pertanyaan, kenapa saya selalu se verbal ini dalam berbahasa dan menyampaikan segala sesuatunya. Kenapa saya tidak berbahasa yang agak sedikit weird'o atau lain lain, tapi kita bisa bahas itu nanti atau kapan kapan, ya tentu saja selalu ada akar sebelum pohon pernah terjadi.
Baiklah, sebelum kita memulai banyak cerita tentang rucita,
Perkenalan saya dan rucita dimulai pada kelas tambahan eternal choir concordia. Setelah berkenalan, saya mengalami fase magnetik setiap kali mendekati anak imut itu, saat menemukannya sedang bermain piano dibalik jendela rumah kebun, rasanya seperti suatu keajaiban yang begitu selaras selalu menarik saya untuk menerima beberapa skenario visualisasi ke arah dirinya. Entah kenapa, saya ada sesuatu yang mendorong untuk diobrolkan bersamaan di momen tersebut, maka dimulailah obrolan saya berdua bersama rucita.
Saya : "Set nada mozart diminished nya bagus."
Rucita : "Oh ya? seberapa bagus?"
Saya : "Approximately bagus, Rucita huh?"
Rucita : "Yes!"
Waktu demi waktu berlalu sejak percakapan pada hari itu, musim kepada musim kian datang serta silih berganti. Kami berdua sering meluangkan waktu sambil ngobrol dirumahnya, saya selalu terbuai dengan pemikiran pemikiran cerdas yang disampaikan diantara saya oleh dia. Sambil menikmati bungkusan gemerlap dari hershey's london yang bertaburan di sofa hitam empuknya.
Kami berdua saling menghangatkan badan di perapian dalam rumahnya, hingga lupa bahwa sudah ketiduran di karpet bulu beruang yang mampu menghilangkan perasaan bahwa waktu terus berjalan.
Yang paling saya ingat adalah, perasaan berdegup degup kami ketika membaca buku petualangan huckleberry lalu the jumping devil hingga tamat. Setelah merasa haus, rucita menawarkan sedikit exotic dine dirumahnya dengan berbagi anggur serta melihat bintang oretron hijau sebelum tanggal satu juli benar benar tiba.
Saya pikir, hal ini adalah hal yang begitu romantis untuk dikisahkan kembali. It has been a long time, when we're getting in life together, seeing the stars, ruc.
Saya memperhatikan rucita di setiap kesempatan saya dapat memperhatikannya, sesekali saya menyukai gelak tawanya, dan ucapan yang mengundang rasa penasaran untuk mencarinya lebih jauh lagi.
Seperti disanjung bidadari, menghadapi rucita seperti melihat seseorang yang tulus menerima permintaan pertemanan di masa masa remaja kami berdua, saya teringat sekali, saya menyukai rucita, tetapi tidak mencintainya, itu indah sekali untuk dinikmati, menyukai seorang teman wanita di masa muda.
Ini benar benar serius, karena setiap kali saya menghabiskan waktu bersamanya, perasaan suka itu semakin logis, seperti saya yang berada di samping ia karena itulah gunanya seorang teman yang senang bersuka cita dengan harinya, hari mereka, hari kita berdua.
Pergi berlibur ke pantai berdua, menikmati lembayung dengan memandangi wajahmu yang tidak pernah ada habisnya itu... suatu sensasi yang jauh dari kata klise. Saya bilang ekspressimu memang aerodinamis sekali, entah karena apa alasan bagi diri saya mengatakan satu hal itu kepada kamu, ruc.
Ingat tuh, kita pernah memainkan 1st album nya musik maliq disana, kamu bermain gitar dan saya yang sedang bernyanyi saat kita tahu inilah cara terbaik untuk menghabiskan waktu yang begitu panjang didalam satu hari kita. Lalu menjadi foto genik bersama pada lensa terbaik leica tahun 2000 yang selalu menjadi kesayanganmu itu.
Saya : "Eh, hasil foto nya bagus"
Rucita : "bagus"
Rucita : "Bagus bagus banget!" *Kagum
Saya : "Ruc, kapan hasil fotonya bakalan jelek?"
Rucita : "Ga mungkin jelek naufal, bakalan selalu bagus, kamu kan model, ganteng sih."
Naufal : "Ruc..."
Dan hari hari akhir untuk pertemanan kita pun diwarnai dengan memandangi rintik hujan sendu, yang jatuh di jendelamu, kita bersama mencuri curi untuk membaca majalah playboy kepunyaan kakak di bawah kasur kedua orang tuamu.
Memakai lampu senter untuk melihatnya dengan jelas dan semakin asyik sampai suara cekikikan kita berdua, mungkin menakut nakuti hantu lain yang sedang beraksi. Kalau sudah bosan dan hujan telah hilang, aku dengannya berlomba lomba berlari ke lantai atas untuk memainkan high and dry nya jamie cullum, aku yang menyanyi dan rucita selalu hebat saat memainkan melodi melodi pianonya.