Skip to main content

A Personal Etiquette





Halo, selamat datang pada pembicaraan saya kali ini, selamat bergabung dan selamat menikmati suasana perbincangan yang telah diadakan. Hahahah, basi, formal sekali ya. Sebetulnya pembicaraan ini tidak resmi dan cenderung lebih bersifat kasual. Baik, mungkin ini tidak akan memakan waktu yang lama, karena disini saya hanya berusaha menuliskan sebuah opini yang sebenarnya baru saja saya dapatkan di pagi hari.


Sebelumnya saya tegaskan, bahwa ketika anda bertemu dengan seseorang yang bernama Naufal Rangkuti, itu artinya dengan jelas anda telah menemukan seseorang dengan kriteria yang telah ditetapkan, seorang penganut paham idealisme sebagai filosofi kehidupannya. Seorang perfeksionis dalam taraf yang obsesif, dan seseorang dengan terapan etikal praktis terhadap area personal maupun sosialnya. Sebetulnya tidak perlu menganggap terlalu berat mengenai sesuatu yang kita coba bicarakan disini, lagipula beberapa dari kalimat yang diterangkan juga adalah suatu sarkasme pada tingkat yang tidak terlalu menyeluruh.


Hahahahaha.


Saya tahu tidak semua orang ingin merasakan kesulitan dalam mengenali sosok yang baru dikenalnya, saya tahu semua ingin yang sederhana dan mudah untuk dikenali, diingat, dan ketika ingin mengulanginya lagi, semua orang sudah tidak perlu mencari cari setengah mati sosok seperti apa ya orang yang akan saya datangi ini.


Apakah rumit, atau lebih baik saya melupakan saja orang ini, kalau ini pula bukan abad pertama, dimana sesuatu yang benar benar dicari hanya ada pada diri seseorang, beberapa orang belum berkembang pada abad seperti itu, mereka berpencar karena belum ada pembangunan kota sentral yang begitu besar dan menjadi pusat atas segala aktivitas manusia modern seperti di masa kini.

Namun tidak begitu rumit seperti jaman dahulu kala, sekarang sudah banyak manusia yang ber common habitual, wajar sekali nampaknya... mengapa? karena kita selalu hidup bersama, saling tolong menolong, saling bertukar cerita, dan juga saling terkoneksi, dan tentu saja saling memperbaharui, seperti teknologi, kita selalu mendapat ide ide pada jaman demi jaman, kita selalu mengeluarkan luapan luapan ide jenius yang dihasilkan oleh proses berpikir yang berkesinambungan.


Sosok seperti Naufal Rangkuti, dapat dipastikan sekali bahwa orang seperti dia tidak akan mendahulukan dogmatisme tertentu, apalagi sebuah nilai historis yang selalu dipercayai oleh khalayak ramai di masyarakat umum dan sekitarnya. Geez, it’s getting serious. Karena... penciptaan manusia itu begitu unik bukan, ketika para manusia memilih kepada satu pilihan yang tersedia diantara dua pilihan, maka... dapat dipastikan bukan bahwa manusia yang satunya lagi rupanya telah memilih pilihan yang kedua. Pilihan yang menjadi simbolisme kental akan sebuah perbedaan. Lagi lagi... sebuah gurauan sarkastik yang menyenangkan, mungkin beliau ini adalah orang yang hanya senang bercanda dalam kalimat kalimat satir yang penuh makna tersirat didalamnya.


Kini, sebuah pembahasan akan tertuju pada poin perspektif tertentu mengenai keyakinan baik itu rasional maupun irasional, karena saya begitu tahu, saya mencoba memahami kalau dirinya tidak akan mengedepankan sudut pandang apapun yang muncul ke permukaan sebagai bahan rujukan atau pilihan kedua sebagai subtitusi atas sebuah pencarian, beberapa diantaranya adalah melalui proses pemilihan, yang secara psikologis akan didahulukan. Berbicara mengenai masalah profesionalitas didalam suatu pekerjaan dan cara bekerjanya, tentu saja hal ini bersangkutan dengan kredibilitas yang terkandung pada diri seorang individu.


Dimana kredibilitas tersebut menjadi sebuah penentu kualitas hasil saat individu tersebut menghadapi/menyelesaikan pekerjaannya. Ya, ini adalah benar apa yang kita bicarakan mengenai individu yang bekerja didalam suatu pekerjaan, dimana cakupan dari seluruh aspek sosial dan interpersonal sudah termasuk kedalam berlangsungnya proses interaksi kemanusiaan ini, interaksi antara manusia dan pekerjaannya.


Sekarang mari saya jelaskan opini kali ini pada bentuk yang lebih tersimplifikasi, halah, dididik menjadi anak yang formal sejak dini, maka besar kemungkinannya ketika ia sudah beranjak dewasa, sang anak akan selalu mengikuti pelajaran dari masa kecil yang telah menjadi cara bagaimana dia hidup, dan mungkin, sesuatu yang formal tidak begitu salah, selama ia, sang anak, bisa menggunakannya pada momen yang memang membutuhkan tata bahasa formal, sehingga misinya untuk memberikan penjelasan terhadap sesuatu akan menjadi lebih general, lebih.. mudah diterima.


Persimpel bentuknya, kali ini saya akan memulai pembahasan pada beberapa aspek profesional dalam salah satu bidang pekerjaan, berikut profesinya, saya akan menyebut model pada kesempatan kali ini. Model, profesi yang menarik, profesi yang dibicarakan ketika para pelakunya bertemu di sky lounge dengan pakaian perlente dan cap invitation only yang akan menentukan seseorang itu bergabung dengan mereka atau tidaknya.


Model, profesi yang identik dengan orang orang mapan, profesi yang identik dengan selera selera berkelas, insan insan dingin yang jenius, dan cap cap lama akan glamoritas yang terkandung pekat dari sebuah profesi, yes, model masih menjadi satu famili dengan profesi mewah lainnya yang memiliki pekerjaan serupa, model... ibarat genre musik jazz yang hanya boleh dimainkan bagi orang orang yang benar memiliki keahlian didalamnya, bila salah memainkan, maka tidak seperti itu musik yang dihasilkan, tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Tidak jauh rasanya perbedaan genre musik jazz berkelas, pemain musiknya, dan model berkelas. Korelasi yang masih mengandung kemewahan didalamnya.


Model, identik dengan gaya hidup, model bekerja secara simultan dan dinamis, pekerjaan seperti ini membutuhkan insan yang ahli di bidangnya, karena berkaitan dengan kualitas sebuah mahakarya dalam pembuatannya itu sendiri. Serta insan yang penuh kreatifitas, teknik dan jiwa yang menguasai bidang pekerjaannya sebagai seorang model, bila tidak berhasrat, sama saja bohong, bila terlalu memaksakan, sama saja bohong, dua kali berbohong, maka suatu kejujuran dibutuhkan didalamnya.


Bekerja menjadi model, setidaknya bukan hanya masalah profesional atau tidaknya saja bagi para orang yang bekerja didalamnya, bekerja menjadi model juga bukan tentang pemula atau mahirnya seseorang didalamnya, semua itu cuma hal hal belakangan yang kita ala ala-kan saja sebagai sandiwara, bahasan kurang menarik yang lebay, berlebihan dan dilebih lebihkan dalam bekerja sebagai model. Karena sebenarnya bekerja sebagai model hanyalah tentang interaksi antar manusia dalam menyelesaikan suatu bisnis. Kepentingan akan interaksi manusia menjadi begitu penting saat kita berhubungan dengan segala hal yang kita rasa menjadi urusan kita dalam bekerja, berbisnis, dan juga banyak hal lainnya.


Pada kenyataannya, memang, bekerja menjadi model tidaklah sesederhana yang dapat dibayangkan, dibutuhkan persyaratan serta inisiatif tertentu oleh sang individu yang bekerja agar dapat memenuhi kriteria yang dikeluarkan klien agar sang model dapat menyanggupi diri sebagai seorang model ketika ia menyepakati terjadinya suatu kerjasama.


Untuk menjadi model misalkan, dibutuhkan tinggi badan serta bobot badan yang berada pada kondisi idealnya agar menciptakan suatu keseimbangan yang pas pada objek yang ingin dikenakan,


“Because I want to fit, in.”


Ujar patrick bateman, seorang american psycho. Begitupula dengan model, because you want to fit, in.


Ketika sang model memperagakan busana desainer diatas runway. Itu hanyalah beberapa saja dari persayaratan yang dibutuhkan untuk memenuhi kriteria sebagai model catwalk. Model, umumnya, tidak hanya dikenal sebagai model catwalk saja, model juga terdapat jenis/sub pekerjaan lain yang masih meliputi model sebagai pelaku pekerjanya, semua orang sekarang sudah bisa menjadi model, banyak yang sudah berubah dari teknologi digital, yang membuat semua orang sudah dapat merasakan nikmatnya narsisistik dari berlagak dan bertingkah seperti seorang model. Menjadi model adalah tentang berbisnis, sang model memberikan aksinya sebagai objek, dan klien yang menerima data sang model, yang telah melewati beberapa tahapan pengolahan digital, untuk berbagai macam keperluan pula tentunya.


Model sebagai peragawan atau peragawati bagi yang wanita. Tentunya terbagi menjadi beberapa sub kategori lagi didalam jenis pekerjaannya, pada contoh pertama, kita akan mengenali model pembawa busana, mereka bekerja di atas runway untuk membawakan mahakarya para desainer busana, biasanya model seperti ini memiliki perawakan tubuh yang tinggi dan tubuh yang elok, serta ramping. Beberapa diantaranya memiliki alur wajah khusus, memiliki hal hal yang tidaklah lain secara luas digemari oleh para desainer, tetapi bukan berarti mereka cocok di segala macam pekerjaan model, semua memiliki kesempatan untuk memainkan perannya. Seperti yang sudah saya katakan tadi, tidak bisa di sama ratakan.


Model seperti ini memiliki salary besar, jutaan bilangannya, dari mulai satu juta hingga puluhan juta rupiah ketika mereka melakukan pekerjaannya. Apakah sulit menjadi model seperti ini? Sulit, banyak hal yang harus dipenuhi, mulai dari keahlian berjalan diatas runway, handal dalam berpose, memiliki tubuh yang secara natural, memang tinggi, bobot tubuh ideal dan disesuaikan, dan perihal disiplin dalam menjalani berbagai macam kegiatan yang diperlukan dan berkaitan dengan karir menjadi model, serta pengalaman dalam merasakan lelahnya musim fesyen, dipenuhi dengan tebalnya tata rias yang menempel di wajah para model busana.


Namun, semua itu sebanding pantasnya dengan bayaran yang mereka terima, beberapa belum terjadi, beberapa sudah, lagi lagi, hanya masalah interaksi kemanusiaan saja, beserta penilaian personal dan teman temannya. Individu yang berbakat untuk menjadi model seperti ini biasanya membutuhkan determinasi sejak usia muda, biasanya pada usia 20 hingga 30 tahun, tubuh mereka sudah terlihat mantap untuk membawakan karya para desainer. So, mendaftarlah di tim model yang kredibel dan profesional, lagi lagi sebuah statement, dan standar internasional.


Apakah perlu wajah yang khusus dalam menjadi model seperti ini, ooh tentu saja tidak, model seperti ini biasanya tidak perlu dan tidak butuh secara moderat, untuk memiliki riak wajah yang spesial, bila ada, pastinya akan menambah nilai khusus didalam kompetensi diri sang model, karena biasanya, bila tidak cantik, ya tampan, bila tidak menarik, ya kurang menarik, hanya mental yang digunakan, dan tentu saja, tubuh yang secara natural memang sudah ditakdirkan untuk menjadi model, tinggi, langsing, dan memiliki bentuk tubuh hourglass. Sebuah hourglass, suatu standar fesyen internasional. Ha ha ha ha, persaingan menjadi semakin berat, ya?


Pada jenis kedua, kita dapat mengetahui bahwa ada model produk, biasanya bekerja untuk kepentingan suatu perusahaan, fotonya tercetak lebar dan besar sebagai sebuah objek visual atraktif demi menghasilkan teknik marketing yang menarik minat para konsumen. Ketiga, model potret, model close up, model karakter yang khusus sekali, mengapa saya tambahkan khusus? Karena model karakter digunakan untuk kebutuhan yang bersangkutan, model dan jenis pekerjaannya yang terbagi lagi tentu tidak bisa di sama ratakan, beberapa orang menganggap bahwa tampan dan jelita sudah tentu pasti model, tinggi, langsing, dan bertubuh ideal sudah tentu pasti bekerja dan berbakat untuk menjadi model.


Belum tentu.


Namun intinya tetap, mereka semua sama sama bekerja untuk melangsungkan proses bertahan hidup, beserta passion dan teman teman nya.


"Money matters, passion matters. What else?"

Naufal Rangkuti

Dengan menerima kesepakatan untuk menyanggupi diri bekerja sebagai seorang model, berarti juga anda telah menerima ketentuan dan syarat yang telah ditetapkan oleh klien mengenai kebutuhan mereka dan cara anda bekerja terhadap mereka sebagai seorang model, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana cara anda melangsungkan proses berkomunikasi, bekerjasama dengan mereka, yang pasti tetap dalam pilar kesopanan dan memegang kode etik bekerja sebagai seorang profesional. Begitupula dengan saya, hal hal yang singkat dapat saya sebutkan, seperti selalu mendahulukan etika personal, self esteem/harga diri yang tinggi menjadi syarat utama untuk bekerja sebagai seorang model.


Dengan ini kita mengerti bahwa karena hal itulah pekerjaan sebagai model bukanlah suatu pekerjaan yang gampang serta murahan untuk dijalani. Dibutuhkan kredibilitas, kompetensi keunggulan pribadi dan bayaran yang setimpal atas hasil usaha bekerja keras disaat ingin meraihnya. Edukasi sejak dini dan menahun pada aspek pengembangan diri dan etika personalitas lah yang dengan terang terangan telah membentuk saya menjadi seseorang yang selalu mencari kesempurnaan didalam segala harmoni yang terbentang, agar terciptanya maksimalisasi atas suatu mahakarya yang sudah diciptakan.


Dalam pandangan saya, model adalah suatu profesi yang melibatkan peran aktif serta kedisiplinan dalam bergaya hidup profesional secara besar besaran didalamnya. Tentu ini sulit lho bagi pemula yang ingin berkecimpung di dunia permodelan, tetapi tidak menutup kemungkinan bagi beberapa orang dengan kualitas tertentu yang ingin terjun ke dunia permodelan.


Tanpa terasa ya, kita sudah bertemu dengan akhir pembicaraan, sekarang izinkan saya untuk mohon diri.



Salam hormat saya,


Naufal Rangkuti
Arrivederci, model

Popular posts from this blog

Believe me, I've been going through this life.

Yes, I've been going through this life. Being a counsel isn't easy. Being as an infj, on the beginning, felt too hard for me. Believe me, I try. But often life must go on. Something like love, relationship, my personal growing history has become an enormous thing to have in me. I've cited some quotations of life. The best of it, the number one from Mr. Benjamin Franklin. Theodore Roosevelt, Mr. Jacques De Molay and many historical figures. Believe me, I've been going through this life. I have my first crying moment, my first perspective on myself. I have my first contemplating session only with myself. Well sometimes normally, I miss being around with my old pal in the children psychology class. The occupation teacher and tutors. Especially rucita. Yet so far, I've been going through my teenage times too. I get a crush on a girl. I remember sitting on a veranda with glo, my first girlfriend. Making her laugh, tickle her, entertain a lot. And what I got is, I t...

Personal Flexibility: A series of life events.

The Bureau. I would spend my money for making this services available to me after all the year gone by. So why? I'm sure there must be some reason. Well, I'd fully recommend me the psychologist structured way to overcomes my personal problem. On the beginning, let's make it clear about me whom tend to not pretending that I didn't have a problem, at all. Instead, I have one small problem, and that's the reason. People gonna say that's useless to come to a psychologist, waste of money, bla bla bla. For me, that Psychologist psy degree proves better compared with the people opinions. The occupational therapist helped me to figure out my problem, the thing that I didn't know, they're the expert of various human experience. Now, let me tell you a story. When I was 7 years old, I have a problem in observing too many living aspect in a detailed way, the school, families, friends, and even myself. Yeah, I was overwhelmed by my habit of analyzing too muc...

Daftar Putar Musik