Skip to main content

Children of Overjoyed | Written By: Naufal Rangkuti




Due to my opinion, there are some overjoyed feels undergoing within this life. Ya, saya memiliki sebuah keadaan, dengan beberapa orang didalamnya, dimana orang orang tersebut, termasuk sosok langka. Menetap hanya sementara didalam hidup saya, atau saya sendiri yang harus mengurusi keyakinan terhadap kepercayaan tersebut.

Waktu itu, saya sedang berada di sebuah pemakaman, orang orang terlihat mengenakan pakaian hitam, saya memperhatikan dengan seksama, bahwa balada tangis dan berpelukan dibawah payung menjadi drama atas seseorang yang meninggalkan mereka. Sekuel menit demi menit itu akhirnya berakhir ringan, saya tidak berbicara dengan siapapun dari anggota keluarga orang yang berada di peti mati tersebut, begitu naif rasanya menghadiri sebuah kematian hanya karena alam memutuskan untuk berbicara lain, menyebabkan sesuatu yang mengganjal ketika harus menerima keputusan berat.

Hati saya dingin di hari itu, tidak ada negosiasi dari kesedihan yang sama sekali menyebabkan tumpahnya air mata meski barang setetes saja. Kemudian, ketika seorang teman wanitanya bertanya mengapa saya tidak menangis di pemakaman itu, saya menjawabnya perlahan lahan. Yang bersangkutan sudah cukup menangis ketika ia melihat dirinya sendiri terbaring membiru pada sebuah peti yang mengandung makna ambigu didalamnya.

Entah sebuah kehidupan harus berlanjut, atau alam memang memiliki cambuk terlihainya untuk membuat subyek terdiam selama mungkin menuju sebuah fase pelepasan, semua yang hilang. Harus direlakan. Sebuah kematian meninggalkan pesannya tersendiri, memang. Lho, Naufal, kemana konsep overjoyed yang pernah kamu sebutkan di awal kalimat? Baiklah, saya sengaja mengurai sesuatu yang berbeda dari kebiasaan yang manusia biasanya lakukan.

Overjoyed hanyalah sebuah awal, hingga saya diperkenankan untuk mengenali sebuah akhir, overjoyed feeling akan berubah menjadi oversadness pada kemungkinan terbesarnya, karena kita selalu melewati tahapan demi tahapan didalam kehidupan ini. Tetapi sebelumnya, saya tidak akan pulang meski kelas belajar sudah membunyikan suara belnya.

Biarkan para anak anak itu berhamburan, mereka mengenali hidup selayaknya dengan cara yang mereka inginkan, begitu juga dengan saya, yang masih duduk diantara keheningan, memperhatikan keramaian. Orang seperti saya tidak akan ada kembarannya di dunia ini, semenjak saya mengatakan sesuatu yang membuat cara berpikir manusia harus menambahkan beberapa eksposisi bersamaan didalamnya, satu orang manusia diciptakan untuk satu tempat di jantung hati kehidupan.

Kali ini, saya akan membawakan cerita tentang seseorang. Kami dulu pernah bertemu di masa masa kami bersekolah, suatu masa dimana saya sendiri terkadang masih harus memeras kinerja pemikiran terhadap urusan struktur analisa yang saya buat untuk memahami diri saya sendiri. Saya yang terlalu lemah untuk berlaju di lintas teatrikal kehidupan, tanpa sepengetahuan orang banyak, memiliki suatu tradisi untuk menulis jurnal kalkulasi ringan terhadap apa yang terjadi di sekitar kehidupan ini.

Saya mencatat, menghitung, menulisnya dan memberikan diagnosa pada setiap detil rinci atas urusan yang saya hadapi mulai dari satu permasalahan berlanjut ke permasalahan yang lainnya, semacam mengabadikannya, sebenarnya jauh dari itu, saya berjuang memahami sesuatu lebih kompleks dari pada permukaan dasar suatu permasalahan.

Sebab kemudian, semua catatan analisa itu saya buang kembali kepada yang memberinya. Yaitu alam, saya sangat gembira ketika menyaksikan serpihan debu hitam terbang keatas awan, itulah tulisan tangan dari hasil buah pemikiran saya yang terbakar, kembali menjadi sebuah naturalitas pada dimensional. Semacam mengkompresi suatu beban, saya hanya mengingat benang merah dari suatu masalah yang sudah terpecahkan. Hal itu saya masih ingat, saya begitu mengingatnya dengan dilandaskan perasaan bahagia, begitu mungkin kesan yang saya rasakan sampai sekarang.

Selalu, saya begitu disadarkan dalam sebuah realita bahwa orang orang tidak akan pernah ingin tahu lebih dalam tentang pribadi kita, bahkan dengan orang yang dicintai, nanti hal ini akan saya perjelas mengapa. Mereka bisa saja terkagum kagum melalui tampilan luar dari pribadi seseorang, tapi berpikirlah dua kali, apa semua yang kita ketahui tentang orang lain itu benar benar sudah menyeluruh? 

Saya yakin kita hanya melihat sebongkah bayangan dibalik diri mereka yang begitu nyata, mereka masih memiliki sesuatu yang tidak pernah kita ketahui. Bermain dengan peran, maka saya segera memasang peran seperti yang sudah disediakan oleh standar kehidupan, istilahnya menjadi orang baik dengan kriteria yang juga gemar saya hafalkan, seperti sering tersenyum, tidak bertingkah sentimentil, pandai dalam memimpin, selalu bekerja tepat waktu, selalu mendahului prioritas pekerjaan, kalau tidak mampu silahkan diam, dan bla bla bla. 

Namun sayangnya, itu hanyalah sebuah kebohongan bagi rasa atau esensial emosi sebenarnya dalam tata cara kita mengenali sosok seorang saya.

Memang, saya tahu bahwa lingkungan sosial menetapkan persyaratan standar sikap yang bisa jadi menjadi anomi jika diadopsikan kedalam diri saya jika ingin ikut andil kedalamnya, bilamana manusia tersebut tidak sesuai dengan persyaratan, maka perlu dikutip sekali lagi nasib manusia tersebut akan menyedihkan, terbelakang, dan dilupakan. Hal ini menandakan, bahwa masih adanya zona paling dalam pada pribadi seseorang, atau karakter sejati/sebenarnya dari seseorang yang disebut sebut.

Ketika memasuki zona terdalam pada diri saya, itu semua menjadi sedikit terasa omong kosong bagi saya karena orang orang hanya bisa mengenali karakter luar saja pada diri saya, padahal dahulu, kita semua sebenarnya tahu dan sangat mengetahui hal ini, bahwa kita tidaklah lain sebagai pelaku interaksi sosial dengan persentase pengulangan interaksi yang dapat saja melebihi apapun karena selain saling ingin mengetahui secara naluriah, kita juga ingin saling mengenal secara baik satu sama lain, lalu, kemanakah perginya perasaan seperti ini?

Bahkan saya sempat beranggapan kalau hal ini disebabkan oleh dampak dari terlalu mashyurnya kecanggihan pada era digital, dimana kutipan seorang jenius seperti einstein mulai terasa nyata pada refleksi kehidupan masyarakat kita, yang menyatakan kengeriannya mengenai efek teknologi akan menghasilkan generasi manusia idiot didalamnya, benar rupanya, setidaknya meskipun mempermudah aksesibilitas, teknologi juga telah menyita botak keintiman diantara satu mahluk sosial dengan mahluk sosial yang lainnya.

Saya kira pembahasan mengenai hilangnya keramahan antar manusia tidak akan dibahas lebih lanjut disini. Namun terkadang, bukan salah skenario kehidupan jika ianya mendatangkan suatu keajaiban tepat di depan kedua bola mata saya. 


.......


Mari kita kembali ke masa bersekolah kami. Dulu, saya pernah mendelik tajam ketika mendapati kehadiran seorang gadis yang bahkan saya tidak tahu siapa sosoknya, sepintas demi sepintas mulai membuat saya mencurigainya, dibuktikan dengan situasi aneh dimana beberapa lembar dari buku pekerjaan esai perpustakaan saya tersobek tanpa jelas kemana hilangnya, saat gadis itu datang menghampiri saya.

Dalam artian, saya perlu intuisi yang terkoordinasi secara tepat untuk mendapatkan kesimpulan mengenai pertanyaan atas apa yang terjadi, kebetulan sekali sudut pandang saya mengatakan bahwa gadis yang berada di ujung sana, dengan samarnya ia mencoba bertingkah seolah olah tidak melakukan hal sama sekali berkaitan dengan saya. 

Hingga akhirnya, saya memberanikan diri untuk berkenalan dengan gadis yang dimaksud, saya pikir mungkin akan menjadi hal menarik mengenali orang yang ingin mendapatkan beberapa informasi tentang maksud dari gerak geriknya ketika memperhatikan keberadaan kita.

Saya tidak merasa canggung saat mencoba diri untuk berkenalan dengan si dia. Kami sempat berbincang bincang pada awalnya, saya mulai mendapatkan informasi akumulatif mengenai gambaran seperti apakah orang yang saya ajak berbicara kali ini, meski harus mengolahnya di kemudian langkah, saya selalu berusaha memahami dengan teratur, setelah begitu lama, setelah penuh suka dan cinta didalamnya.

“Hahaha, naufal, sebenarnya aku itu bukan orang yang pandai dalam urusan membangun hubungan dengan seseorang, tetapi minimal, tuhan kasih saja aku sedikit kecerdasan untuk memberikan persepsi terhadap seseorang yang kita kenal. Sekarang tebak apa, kamu pasti berbalas menyukai aku karena sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan spontan secara langsung oleh orang lain, secara garis besar, aku itu percaya kelemahan selalu terdapat pada diri seseorang, aku mengetahui sosok kamu naufal rangkuti, tapi bukan berarti aku bisa sok tahu terhadap diri kamu. 

Aku tahu kamu dari cara yang amat sangat sederhana, tetapi cara ini belum tentu semua orang menggunakannya, karena cara ini menuntut pikiran yang memiliki talenta murni serta kemampuan khusus untuk menaruh sebuah persepsi pada klasifikasi seseorang yang berjenis seperti kamu. Aku tahu kok.. kamu punya standar untuk setiap hal dalam kehidupan ini di mata kamu. Selarasnya itu bukanlah idealisme, namun semacam perfeksi dari suatu sudut pandang.

Kamu orangnya obsesif kompulsif, terutama terhadap kenyamanan, kamu adalah tipe orang yang tidak akan bisa betah berlama lama berada di hiruk pikuk dengan taraf pemikiran yang dangkal, bersuasana tidak kondusif, bising dan demokratis, dugaanku, kamu penganut kemonarkian, dimana kekuasaan hanya berhak diantarkan kepada tangan orang orang yang kompetitif dan berkonotasi penguasa, disini jelas, kamu tidak memiliki rasa toleransi yang tinggi terhadap kekalahan. Bertingkah seperti bangsawan, atau kamu memang berketurunan bangsawan, aku kurang tahu sejarahnya.

Lagipula itu hak kamu untuk menyembunyikan keterangan tersebut, adalah orang yang mengutamakan eleganitas sebagai biang utama didalam pilar berkehidupan, bedanya dengan pribadi lain, eleganitas adalah suatu seni dan kenikmatan tersendiri, namun untuk kamu, eleganitas adalah obsesi yang harus ditegakkan. Alih alih tidak menemukan ruang yang tepat untuk merealisasikan obsesi tersebut, kamu menurunkan standarnya menjadi harus tegaknya stabilitas didalam menjalani kehidupan, aku terpesona, bisa bisanya kamu merelakan yang sudah dianut oleh generasimu sejak jaman dahulu kala, tumben, kapan sih berubahnya kamu menjadi orang yang sedikit down to earth.

Kamu juga mendasari pandangan pribadi bahwa fungsi paling esensial dari menjalani kehidupan sebagai manusia adalah bagaimana tentang menjalani proses didalam menikmatinya, jadi berhubungan dengan hal itu, kamu berpikir bahwa kondisi hidup yang berada pada titik idealnya adalah, kondisi dimana kamu dapat membangun kenyamanan. Serta tidak tinggal jauh diluar dari rumah yang bertuliskan kenyamanan.

Dan mengejar cita cita yang bernama kenyamanan. Hmm, aku sangat percaya bahwa jika diartikan secara tepat, makna tantangan bagi kamu adalah langkah demi langkah bagi kamu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Hal ini terlihat dari cara kamu menyelesaikan berbagai macam urusan yang sedang kamu hadapi, seperti cara kamu dalam berpenampilan, yang notabene nya rapih dan atraktif, sehingga tidak menjadi hal yang mengherankan kalau kamu sering jadi incaran wanita wanita di sekitar kamu, terlebih lagi para wanita agresif. 

Ini terlihat dari cara kamu bersikap dan berbicara terhadap lawan bicaramu, dengan pembawaan yang nampak eksklusif, membuat lawan bicaramu ingin selalu bercakap cakap mengenai hal yang sensual. Cara kamu berselera didalam memilih sesuatu juga bisa dibilang unik. Aku bahkan masih ingin mengetahuinya lebih lanjut. Terkadang, kamu bisa menjadi orang yang amat kaku, apalagi kalau sudah soal pengaturan finansial dengan orang orang di sekitarmu yang mayoritasnya gemar menghambur hamburkan uang setiap kali mereka melihat hal yang menarik keinginan mereka untuk segera membelinya.

Berbeda denganmu, kamu cenderung menghemat uang secara kebiasaanmu menjadikan kamu untuk tidak terlalu menggunakan uang demi hal hal yang tidak benar benar diperlukan, terlihat dari caramu yang membiarkan uang selalu bekerja untuk kamu, seperti menabung sejak dini, membeli lembaran saham reksadana, atau selalu bergabung dengan teman yang gila mentraktir karena mungkin perangainya memang seperti itu, menguntungkan bagi kita yang ingin selalu berhemat dalam finansial. Oh, atau juga dirimu yang dapat terbantu jika toko kesenanganmu menyediakan diskon besar besaran. Tetapi jangan senang dulu ya, karena aku juga yakin dengan prediksi itu bahwa kamu dapat dipastikan akan menghabiskan uang bahkan tidak memperdulikan nilai uang tersebut demi memuaskan obsesi tersembunyi kamu.

“Coba, seperti apa?”

Aku meyakini bahwa uang itu hanya akan mengalir menuju beberapa hal berikut, seperti dahaga untuk memanjakan aktualisme gaya hidup, penampilan berbusana, seni arsitektural, koleksi interior desain, dan bisa jadi hal hal terakhir akan berupa kupon konyol keanggotaan di pusat perawatan diri. Aku jadinya gemas dan ingin tahu, apa sih perasaan kamu disaat berhasil dalam memenuhi baik kebutuhan maupun keinginan yang berhasil diwujudkan.

Begitulah, meskipun secara tidak langsung, aku mendapatkan pesan yang ingin kamu tunjukkan kepada orang lain. Kamu juga bukan orang yang gila bekerja, tetapi kamu harus bekerja, karena kita sama sama tahu, apa akibatnya jika kamu tidak bekerja, apalagi dikarenakan kamu pernah memiliki bekas kecenderungan sebagai orang yang hiperaktif.

Jujur saja, memang tidak gampang meneliti dan menilai kamu, bahkan jika bukan aku orangnya, aku beranggapan bahwa hanyalah para psikolog ahli dan senior yang dapat mendiagnosa orang orang seperti kamu, secara tepat, karena pasalnya, kamu berangkat dari beberapa kasus yang mereka geluti untuk membantumu menciptakan kamu dalam resolusi bentuk yang lebih baik.

“Wow, eheh, ehm, uh, oke, aku kaget mendengar apa yang baru saja kamu katakan.”

Tetapi aku heran, kenapa kok kamu masih bisa ya berbaik hati terhadap seseorang, dengan prinsip utamamu yang kalau nggak ingin terjadi yang aneh aneh, ya diam, atau tinggalkan orang tersebut… aku merasa… seperti anak kecil yang gembira sekali ketika mengenalmu.”

"Baiklah, catat ini, saya adalah saya dengan segala hal yang pernah ada di matamu, saya adalah saya yang berubah karena waktu, dan saya adalah saya yang abadi dalam kata kata saya sendiri."

Jadi, sekarang sudah paham?

Popular posts from this blog

Believe me, I've been going through this life.

Yes, I've been going through this life. Being a counsel isn't easy. Being as an infj, on the beginning, felt too hard for me. Believe me, I try. But often life must go on. Something like love, relationship, my personal growing history has become an enormous thing to have in me. I've cited some quotations of life. The best of it, the number one from Mr. Benjamin Franklin. Theodore Roosevelt, Mr. Jacques De Molay and many historical figures. Believe me, I've been going through this life. I have my first crying moment, my first perspective on myself. I have my first contemplating session only with myself. Well sometimes normally, I miss being around with my old pal in the children psychology class. The occupation teacher and tutors. Especially rucita. Yet so far, I've been going through my teenage times too. I get a crush on a girl. I remember sitting on a veranda with glo, my first girlfriend. Making her laugh, tickle her, entertain a lot. And what I got is, I t...

Personal Flexibility: A series of life events.

The Bureau. I would spend my money for making this services available to me after all the year gone by. So why? I'm sure there must be some reason. Well, I'd fully recommend me the psychologist structured way to overcomes my personal problem. On the beginning, let's make it clear about me whom tend to not pretending that I didn't have a problem, at all. Instead, I have one small problem, and that's the reason. People gonna say that's useless to come to a psychologist, waste of money, bla bla bla. For me, that Psychologist psy degree proves better compared with the people opinions. The occupational therapist helped me to figure out my problem, the thing that I didn't know, they're the expert of various human experience. Now, let me tell you a story. When I was 7 years old, I have a problem in observing too many living aspect in a detailed way, the school, families, friends, and even myself. Yeah, I was overwhelmed by my habit of analyzing too muc...

Daftar Putar Musik