Anak Indigo
Anak indigo atau anak nila (bahasa Inggris: Indigo children) adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan anak yang diyakini memiliki kemampuan atau sifat yang spesial, tidak biasa, dan bahkan supranatural. Konsep ini merupakan ilmu semu yang didasarkan pada gagasan Zaman Baru pada tahun 1970-an.
Konsep ini mulai terkenal setelah diterbitkannya beberapa buku pada akhir tahun 1990-an dan dirilisnya beberapa film satu dasawarsa kemudian. Interpretasi mengenai indigo ada bermacam-macam: dari yang meyakini bahwa mereka adalah tahap evolusi manusia selanjutnya (yang bahkan mempunyai kemampuan paranormal seperti telepati) hingga yang menyebut anak indigo sebagai orang yang lebih empatik dan kreatif.
Meskipun tidak ada satu bukti penelitian pun yang membuktikan keberadaan anak indigo atau sifat mereka, fenomena ini menarik perhatian orang tua yang anaknya didiagnosis mengalami kesulitan belajar atau yang ingin anaknya spesial.
Kaum skeptik memandangnya sebagai cara orang tua menghindari penanganan pediatrik atau diagnosis psikiatrik yang tepat. Daftar sifat yang dimiliki anak indigo juga dikritik karena terlalu umum sehingga dapat diterapkan untuk hampir semua orang (efek Forer). Fenomena indigo dituduh pula sebagai alat untuk menambang uang dari orang tua yang mudah ditipu.
Asal usul
Konsep anak indigo pertama kali dikemukakan oleh cenayang Nancy Ann Tappe pada tahun 1970-an. Pada tahun 1982, Tappe menerbitkan buku Understanding Your Life Through Color(Memahami Hidup Anda Melalui Warna) yang menjelaskan bahwa semenjak pertengahan tahun 1960-an, ia mulai menyadari bahwa ada banyak anak yang lahir dengan aura “indigo” (dalam publikasi lain Tappe juga mengatakan bahwa warna indigo atau nila berasal dari “warna kehidupan” anak yang ia dapatkan melalui sinestesia).
Gagasan ini kemudian dipopulerkan oleh buku yang berjudul The Indigo Children: The New Kids Have Arrived (Anak Indigo: Anak-anak Baru Telah Tiba) pada tahun 1998. Buku ini ditulis oleh Lee Carroll dan Jan Tober.
Pada tahun 2002, konferensi internasional untuk anak indigo yang dihadiri oleh kurang lebih 600 orang diadakan di Hawaii. Konferensi pada tahun-tahun berikutnya diadakan di Florida danOregon. Beberapa film bertajuk indigo juga telah dibuat, seperti Indigo pada tahun 2003 yang disutradarai oleh James Twyman. Film mengenai indigo juga dirilis di Rusia pada tahun 2008.
Dalam sebuah artikel di Nova Religio pada tahun 2009, Sarah W. Whedon pada tahun 2009 mengusulkan bahwa konstruksi sosial anak indigo merupakan tanggapan terhadap “krisis anak-anak Amerika” yang tampak dalam bentuk peningkatan kekerasan anak-anak dan diagnosis attention deficit disorder dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Whedon meyakini bahwa orang tua melabeli anak mereka sebagai “indigo” sebagai penjelasan alternatif bagi ADD dan ADHD anak mereka.
Karakteristik
Beberapa ciri anak indigo adalah:
Empatik, penuh rasa ingin tahu, berkeinginan kuat, independen, dan sering dianggap aneh oleh teman dan keluarga
Mengenal dirinya dan memiliki tujuan yang jelas
Memiliki spiritualitas di bawah sadar yang kuat semenjak kecil
Meyakini bahwa dirinya layak untuk berada di dunia.
Beberapa ciri lain adalah:
Memiliki IQ yang tinggi, mempunyai kemampuan intuitif, dan sering menolak mengikuti aturan atau petunjuk. Menurut Tober dan Carroll, anak indigo mungkin tidak memiliki performa yang baik di sekolah karena menolak mengikuti aturan, lebih pintar (atau lebih matang secara spiritual) dari guru mereka, dan kurang tanggap terhadap disiplin yang didasarkan pada rasa bersalah, takut atau manipulasi.
Hubungan Indigo dengan attention-deficit hyperactivity disorder
Banyak anak yang dilabeli indigo didiagnosis mengidap attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan buku Tober dan Carroll yang berjudul The Indigo Children sendiri menghubungkan konsep indigo dengan diagnosis ADHD. Robert Todd Carroll menyatakan bahwa pelabelan anak-anak sebagai indigo merupakan alternatif dari diagnosis yang seolah menunjukkan ketidaksempurnaan, kecacatan atau penyakit kejiwaan.
Setelah menghubungkan konsep anak indigo dengan ketakutan terhadap penggunaan Ritalin untuk mengontrol ADHD, Carroll berpendapat bahwa ketakutan akan penggunaan Ritalin telah memperkeruh suasana, dan berdasarkan pilihan yang ada, tentu adalah sesuatu yang masuk akal apabila orang tua lebih memilih meyakini bahwa anak mereka itu spesial dan terpilih untuk misi yang penting daripada menerima kenyataan bahwa anak mereka mengidap penyakit kejiwaan.
Stephen Hinshaw, profesor psikologi di Universitas California, Berkeley, menyatakan bahwa ketakutan akan kelebihan pengobatan terhadap anak itu masuk akal, namun anak berbakat yang didiagnosis ADHD dapat belajar lebih baik dengan lebih banyak struktur, bahkan jika struktur tersebut awalnya mengakibatkan kesulitan. Banyak anak yang dilabeli indigo telah dimasukkan ke sekolah rumah seperti homeschooling.
Kritik
Menurut psikolog Russell Barkley, pergerakan Zaman Baru belum menghasilkan satu bukti pun mengenai keberadaan anak indigo, dan 17 sifat yang dikaitkan dengan anak indigo itu merupakan efek Forer (atau dalam kata lain, terlalu umum sehingga dapat dikaitkan dengan hampir semua orang). Konsep indigo dikritik terdiri dari sifat-sifat yang terlalu umum, dan juga dianggap sebagai diagnosis palsu yang sama sekali tidak didukung oleh sains.
Kurangnya dasar ilmiah untuk konsep indigo diakui oleh beberapa tokoh pendukung indigo seperti Doreen Virtue, pengarang buku The Care and Feeding of Indigos, dan James Twyman, orang yang membuat dua film mengenai indigo.
Ahli kesehatan kejiwaan juga khawatir karena pelabelan indigo dapat menghambat diagnosis dan penanganan yang tepat yang dapat membantu sang anak. Ahli lain juga menyatakan bahwa sifat-sifat anak indigo dapat diinterpretasikan sebagai pembangkangan dan kewaspadaan belaka.
Nick Colangelo, profesor di Universitas Iowa, menyatakan bahwa buku indigo pertama seharusnya tidak diterbitkan, dan bahwa “…pergerakan anak indigo itu bukan mengenai anak-anak, dan juga bukan mengenai warna indigo, tapi mengenai orang dewasa yang menyebut diri mereka sebagai ahli dan mengeruk uang dari buku, presentasi dan video.”
(Dikutip dari wikipedia dengan beberapa penambahan)
_________________________________________________________
Ulasan oleh Naufal Rangkuti mengenai cara mengetahui apakah Indigo atau tidaknya seorang individu :
Seperti yang sudah dipaparkan oleh penjelasan diatas, saya sengaja mengutipnya dari sumber informasi seperti wikipedia, karena wikipedia merupakan salah satu sumber referensi pengetahuan yang cukup relevan dan aktual pada momen pembahasan kali ini dalam menjelaskan definisi apa itu indigo.
Untuk menjawab pertanyaan yang terakhir diajukan, yaitu mengenai bagaimana cara mengetahui apakah indigo atau tidaknya seseorang, saya dapat menyimpulkan suatu kesimpulan secara signifikan mengenai bagaimana cara mengetahui apakah seseorang itu indigo atau tidak. Namun rasanya begitu egois mungkin apabila saya langsung mempersingkat pembahasan kita kali ini. Nah, maka dari itu.
Dalam pembicaraan tentang indigo ini, tentu menurut saya, masih banyak sekali intisari ilmu dan serta pengetahuan yang terkandung didalamnya, hal ini mencerahkan dan membuka cakrawala pengetahuan kita mengenai indigo apabila digali lebih dalam lagi.
Ini memberikan kita suatu kesimpulan, bahwa bukan hal yang sepantasnya jika ada seseorang, bahkan jika orang tersebut adalah saya, dapat berbicara dengan spontan dan mengada ada bak seorang ahli dalam menjawab pertanyaan mengenai topik pembicaraan ini tanpa sebuah penjelasan. Jika saya ingin menjelaskan sesuatu, pastikan sesuatu itu dijelaskan dengan baik.
Selain itu, selain dari apa yang saya coba untuk jelaskan mengenai indigo, bukankah ada makna yang begitu baik ketika beberapa dari kita, mencoba meluangkan waktu untuk berdiskusi, menulis dan mengkaji ulang lebih luas mengenai topik pembahasan yang ingin kita ketahui.
Hal ini dilakukan agar kita mendapatkan kejelasan dan kesepahaman atas suatu hal yang belum pernah kita mengerti dengan jelas, atas apa yang didengar melalui pembicaraan yang terjadi di lingkungan sosial masyarakat. Oleh karena itu, agar dapat di mengerti oleh pikiran kita, seperti suatu inspirasi, rasio pemikiran logis ataupun kisah dan cerita pengalaman, dari para individu indigo, untuk menjadi suatu bahasan menarik yang perlu dikaji lebih dalam agar kita mendapatkan makna yang sebenarnya.
Membahas tentang indigo, khususnya di negeri kita, dimana telah banyak sekali mendapatkan penyebutan baik fakta maupun rumor semata, bahwa telah muncul begitu banyak cara dalam memberikan sudut pandang dalam meresponsi term atau istilah indigo itu sendiri di lingkungan sosial bermasyarakat.
Tak hanya bagi lingkungan sosial saja, banyak orang pula mengatakan, bahwa indigo adalah suatu abilitas/kemampuan biologis, suatu genetik yang unik, yang terdapat pada diri seseorang, juga kemampuan psikologis dan mentalitas yang lebih tajam yang berada dalam diri seseorang, alhasil pada contohnya seperti kemampuan ber-intuisi yang kuat, individu indigo adalah individu yang intuitif.
Individu yang intuitif biasanya menjadi kemenarikan tersendiri bagi orang orang yang senang mengamati kehidupan di sekitarnya.
Demikian dengan banyak hal lain yang tidak seperti biasanya kita temukan, sehingga individu indigo kerap kali diberikan julukan-julukan supranatural, klenik, dan lain lain serta julukan bahwa mereka memiliki kemampuan sakti mandraguna, atau banyak kemampuan lainnya yang mengherankan dan membuat kita geleng geleng kepala ketika mendengar beberapa orang dari para individu indigo ini juga turut mengatakan hal yang sama tentang apa yang sebenarnya mereka alami.
Sumber kemampuan ini, beberapa kemampuan absurd yang dimiliki oleh para individu indigo, konon katanya, adalah kemampuan yang diwariskan oleh generasi mereka jauh sebelum kehidupan para indigo ini berlangsung seperti pada peradaban dunia di jaman kita sekarang. bahwa mereka adalah bentuk dari kepercayaan lama berupa suatu proses reinkarnasi,
yang artinya penghidupan kembali jiwa jiwa yang sudah pernah menempati kehidupan di waktu yang lama, sebelum akhirnya jaman modern kembali berlangsung di kehidupan kita.
SILAHKAN BREAK DULU JIKA MEMUNGKINKAN
Pada poin ini, dalam pandangan subjektif, disebabkan karena jauhnya jarak historial dari kehidupan nenek moyang mereka dan waktu masa kini. Yang mana dalam hal ini, masih merupakan opini sekaligus pendapat yang diberikan oleh banyak sekali pihak, serta kecenderungan yang memihak atas pendapat yang bertajuk bahwa indigo adalah sebuah abiliti/kemampuan yang murni diwariskan oleh ikatan genealogis para individu indigo itu sendiri.
Di sisi lain, ada yang mengatakan bahwa sempat tidak bisa dipastikannya secara akurat anggapan bahwa individu ini adalah individu yang indigo apabila sang indigo itu sendiri tidak terbukti memiliki silsilah keturunan atas kerajaan atau kebangsawanan. Kalau bukan keturunan bangsawan, tentunya bukan seorang indigo. Selain miris mendengarnya, hal ini tentunya tidak dapat diterima oleh semua orang.
Karena begitu jauhnya perbedaan budaya pada jaman dulu dengan masa kini.
Dan karena itupula anggapan yang dirasa terlalu memihak pada suatu penjelasan yang tak bersifat universal. Betul bahwa jika secara menyeluruh dan lebih kompleks lagi, anggapan seperti ini sangatlah tidak bersifat universal, juga sungguh berbeda dengan gambaran pada sistem sosial kemanusiaan yang jauh belakangan ini telah berevolusi menjadi lebih demokratif.
Sebuah sistem yang lebih mengutamakan fleksibilitas dan potensi akan adanya peluang untuk saling memberikan pendapat dan pendapatnya dipikirkan ulang secara menyeluruh. Namun dengan beberapa dominasi yang masih sempat terjadi didalamnya, mengingat demokrasi adalah sebuah pilihan yang menakjubkan ya.
Ketika sekian banyak pertanyaan serta rasa penasaran yang mulai meluap luap, ada sebuah niatan untuk mencari tahu apakah indigo yang disebut sebut ini, juga terdapat didalam diri kita? kita mulai memikirkan untuk mencari tahu lebih spesifik lagi, karena sesungguhnya bagaimana sih cara yang tepat untuk mengetahui seseorang itu indigo atau tidaknya?
Tenang saja, sesungguhnya jawaban pasti selalu ada dibalik sebuah pertanyaan, karena jika sebuah pertanyaan tidak pernah memiliki jawaban atau tidak pernah terjawab, itu adalah urusan yang berbeda, hahahaha. Tentu saja ada... setidaknya bagaimana metode kita dalam mencari tahu, adalah sebuah metode bagi kita untuk mengetahui hal tersebut,
tentunya dengan melakukan riset serta pencarian yang mengedepankan empirisme dan analitikal yang lebih terkorespondensi.
Jika berpindah kepada konteks bahwa indigo hanyalah orang yang berketurunan bangsawan. Lalu bagaimana nasib para orang bukan-bangsawan ini yang telah terlanjur mengaku dan merasa dirinya sebagai seorang indigo. Mungkinkah ia harus mendapati dirinya dianggap sebagai psikopat sosial, seorang sosiopat?
yang terobsesi melabeli dirinya sebagai seorang indigo. Tak heran, jika nasibnya bertolak belakang, ia malah mendapat perlakuan dikucilkan dari lingkungan masyarakat disekitarnya.
Bisa dipahami... memang, namun tidaklah se-kronis itu efek yang dirasakan, dan yang pasti menurut saya adalah, kita perlu mengetahui suatu nilai nilai pokok dan inti kejelasan fundamental mengenai indigo seperti yang tersebut, melalui asesmen berkelanjutan serta analisis diagnosa yang terdapat di lembaga ahli seperti biro lembaga konsultasi psikologi seseorang.
Kita tidaklah mencari cari sesuatu yang asing lalu begitu saja menerapkannya kedalam diri kita, apalagi jika sesuatu tersebut, katakanlah indigo, suatu term atau istilah yang masih mendapatkan perlakuan yang tidak biasanya oleh banyak masyarakat di lingkungan sosial. Hehe, bagaimana, bisa menjadi adanya sebuah pertimbangan bukan?
Berlanjut ke perbincangan lainnya tentang mengetahui apakah iya atau tidaknya seseorang itu dapat dikatakan sebagai seorang indigo. Pada awalnya, seolah mengutamakan unsur klenik, indigo juga seringkali dikategorikan sebagai hadirnya hal hal diluar normal atas pengakuan paranormalis yang terdapat didalam diri seorang indigo.
Maka tidak menutup kemungkinan banyak orang akan berpikir, oh, individu tersebut cukup klenik saya rasa, dan juga cukup diluar normal, ah, pasti saja dia adalah individu yang indigo.
Contohnya banyak sekali, seperti yang sering kita lihat pada sebuah konsep sajian informasi dari beberapa stasiun televisi nasional, hal ini tidaklah jauh berbeda dengan yang sebelumnya, perbedaan kali ini hanya terdapat pada konsep pendamping halus seorang indigo yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang.
SILAHKAN BREAK DULU JIKA MEMUNGKINKAN
Konon katanya, individu indigo selalu mendapatkan pendamping halus khusus yang menemani dan terkadang dapat berada tepat di samping dirinya. Maka reaksi spontan yang dikeluarkan oleh orang yang tidak begitu memahami adalah kekagetan, yang mungkin, akan menjadikan suasana yang mendadak horor,
dan menjadikan orang tersebut mulai mempertanyakan keabsahan serta terguncangnya sebuah kepercayaan, seperti yang dijelaskan melalui sang indigo, sambil merinding, dan menyadari bahwa ini adalah salah satu fenomena sosial yang menakjubkan, ekstrim dirasa dan menjadi sebuah tantangan untuk mendengarkan para individu indigo berbicara tentang kisah mereka yang begitu menarik perhatian kita ketika menyimaknya.
Jika indigo adalah sebuah pengakuan, maka tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada beberapa kalangan pada masyarakat pasti akan merasa penasaran untuk mengaku ngaku sebagai individu yang indigo, mengapa demikian pula itu jadinya?
Karena pada dasarnya, seperti dalam aspek indigo itu sendiri, ada energi khusus yang membuat seseorang merasa beda dan merasa di anak emaskan atas label indigo yang diakui baik oleh dirinya maupun pengakuan oleh orang lain yang disematkan kepada diri individu tersebut, yang pada prosesnya harus melewati pengujian terlebih dahulu, melewati generalisasi terlebih dahulu,
Atau bahkan, bisa saja hanya melalui sebuah tunjuk menunjuk ringan atas sebuah julukan yang disematkan kepada diri seseorang. Walhasil, menjadi indigo mulai terdengar jelas riaknya bahwa semua orang yang tertarik, bisa saja mau dan ingin mengaku ngaku sebagai indigo.
Dalam kacamata analisa saya, atmosfir sosial terkadang tidak menaruh perhatian maksimal terhadap efek buruk apa saja yang ditimbulkan dari cara mengaku ngaku tersebut. Hal yang tidak begitu baik akan muncul begitupula ketika kita menjadi indigo yang lahir hanya dari suatu pengakuan demi mendapatkan diagnosa alternatif atas tervonisnya kasus kejiwaan didalam diri seorang individu.
Pada pembahasan yang begitu kompleks ini, selalu hadir kelengkapan aspek yang perlu diteliti dan dibahas dalam diri seseorang dalam mencirikan indikasi indikasi tertentu mengenai indigo itu sendiri.
Seperti yang dapat diketahui melalui wikipedia, anak indigo seringkali di identikkan dengan anak atau orang dewasa yang juga disebut sebut memiliki diferensiasi mental yaitu attention deficit disorder.
Jika suatu diagnosis didasarkan dan diaplikasikan kedalam seorang individu, dimana diagnosis tersebut menyatakan bahwa dirinya memiliki atensi atas suatu penyakit kejiwaan, seperti attention deficit disorder, add, yang tentu saja berbeda dengan adhd, tetapi masih merupakan satu atensi, yaitu disorder seperti yang tadi dijelaskan. Lalu bagaimanakah caranya?
Tidak hanya sepintas saja kita menyaksikan realita seperti ini, bahkan, penderita skizofrenia (schizophrenia) poros awal, yang gejalanya lebih sedikit mirip dengan anak anak usia belia yang disebut sebut sebagai anak indigo, sering sekali mengalami kesurupan karena mengalami penglihatan halusional. Meski kenyataannya hal ini hanyalah gejala yang disebabkan oleh waham atau delusi yang sudah terbukti menjadi alasan mengapa individu tersebut adalah seorang penderita skizofrenia.
Namun mentalitas setiap individu adalah unik dan tidak bisa dijelaskan hanya dalam satu subjeksi saja, katakanlah indigo dalam fokus yang kita bicarakan.
Well, apabila setiap individu adalah suatu koherensial yang unik, maka dapat dikatakan, masih banyak term atau istilah lainnya yang bisa diaplikasikan kedalam diri individu yang bersangkutan. Mau term apakah anda selain indigo, prodigi, sinestesia, autisme savant, silahkan, setiap orang adalah berbeda, kita tidak pernah bisa menyamakan seorang individu dengan individu yang lainnya.
Tetapi ada satu hal yang perlu diingat, diagnosa atas sebuah kelainan kejiwaan bukanlah lelucon yang menyenangkan untuk dibagi dengan diri sendiri, apalagi dengan banyak orang lain.
Kalau hanya seputar sebut menyebut, sebetulnya disitulah konteks itu sebetulnya berlangsung, berbeda dengan terjadinya proses keberlangsungan biologis yang begitu jelas sudah tercipta dan mengalir bersamaan didalam diri setiap individu yang menjalani kehidupan di bumi ini.
Seperti pada individu indigo contohnya, naturalisme yang muncul ke permukaan adalah mutlak sebuah kejujuran atas definisi indigo itu sendiri.
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menyaksikan secara jelas, dalam pertemuan asosiasi indigo indonesia, hadir seseorang yang mengakui dirinya sebagai sosok Indigo, merasa memiliki gejala gejala orang indigo, merasa mampu untuk menunjukkan pola pola perilaku yang indigo terhadap lingkungan disekitarnya.
Bertingkah indigo, berbicara seperti seorang indigo, dan menyebut nyebut dirinya sebagai individu yang baru saja merasa, terasa, dan dapat dirasakan oleh lingkup internal bahwa, ahh, saya adalah indigo, saya adalah indigo, akhirnya saya menemukan apa yang tersembunyi didalam diri saya, begitu jauh nan dalam, rupanya, saya adalah seorang indigo!
Wah.. begitu catchy sekali ya nampaknya hidup orang tersebut di hari itu, sekilas, headline of the day dirinya adalah sebuah resolusi baru terhadap ke-indigoan yang baru saja direvelasi tanpa pandang bulu sama sekali. Tak perduli entah itu memotivasi, merombak ulang, atau mem-bagaimanakan kondisi kejiwaan seseorang, karena pasalnya, indigo is a new me for today and for the next day i going through the lifes.
Baiklah kalau begitu, indigo adalah sesuatu yang universal, sesuatu yang menginspirasi setiap orang yang merasakan vibrasi positif didalamnya.
Jika saya dapat memberikan sedikit advice, ada baiknya apabila pihak yang yang menangani kasus seperti ini, dalam memberikan diagnosa alternatif yang konotasinya melainkan jauh dari apa yang digambarkan, contohnya, seorang anak yang memiliki atensi memiliki kelainan mental ADD langsung saja disebut anak indigo agar lebih dapat diterima oleh masyarakat, padahal tidak sama sekali harus disebutkan sebagai indigo.
Karena terkadang masih terdapat kekeliruan dalam memberikan suatu istilah yang disematkan kepada seseorang. Dalam realitanya, hal ini tidak akan menciptakan solusi yang sekaligus meredam kebingungan atas suatu masalah, tetapi justru akan memicu adanya sebuah masalah baru yang dibarengi dengan adanya sebuah tekad pencarian baru bagi pihak yang diberikan diagnosa atas istilah yang diberikan.Jika diberikan diagnosis, sebenarnya kita hanya diberikan dua opsi dalam menanggapinya.
Yang pertama yaitu menerimanya apabila diagnosis itu memang benar seperti yang dikatakan, dalam artian diagnosis itu begitu tepat dan mengena pada intinya, atau memang benar seseorang memiliki kelainan kejiwaan yang serupa dan begitu akurat dengan diagnosis yang diberikan.
Opsi kedua adalah mempertimbangkan ulang diagnosis tersebut sambil mencoba untuk memotivasi diri agar kembali pulih dari diagnosis yang telah diberikan terkait diri individu.
Saya memiliki contoh sederhana, seseorang atau anda, di diagnosis mengalami depresi ringan oleh seorang ahli, tetapi karena anda merasa tidak yakin bahwa depresi ringan tersebut menggambarkan diagnosis dan bukan merupakan identitas diri anda yang sebenarnya, ah masa seperti, saya depresi ringan? Ah nggak banget deh, norak.
Alih alih anda malah semakin bangkit, sehingga anda akan mencapai kondisi yang lebih prima dan dan semangat anda akan berangsur angsur lebih banyak sehingga hal ini akan membuat anda lebih cepat pulih dari diagnosis yang sudah diberikan sebelumnya. Hahahaha, ini merupakan suatu proses berkembang yang bagus, bukan.
Bahkan sekarang sudah tidak main main, beberapa masyarakat berpendapat bahwa, kemampuan indigo ini juga diturunkan dari empunya sang indigo… seperti yang kita katakan sebelumnya, indigo adalah sebuah reinkarnasi ulang terhadap fase kehidupan di masa lampau. Individu yang indigo, biasanya sering dinobatkan sebagai orang yang hidupnya didampingi oleh sesuatu, sesuatu itu bukanlah orang hidup dan dapat terlihat oleh mata telanjang.
Kita dapat menyebutnya dengan sebutan mahluk halus, sepanjang ia masih menjalani kehidupan.
Pernah suatu hari saat saya sedang berada didalam sebuah pertemuan, saya mendengar bagian dari perbincangan berikut ini.
"Eh, le kamu tahu tidak. kalau kamu itu berkhodam kakekmu lho, nenekmu, atau bapakmu, atau selingkuhan bapakmu le, kamu indigo lho le, kamu begitu berkhodam ibu tiri kamu."
Hm hm hm,
Hal yang bersangkutan dengan reinkarnasi jiwa juga sering disebut sebut sebagai salah satu ciri bagi individu indigo, padahal jelas jelas hal ini tidak dapat diterima oleh akal psikologis. Belakangan ini, agama juga disebut sebut sebagai salah satu bagian pilar terpenting dalam menentukan ya atau tidaknya karakteristik yang menjadikan seseorang dapat disebut sebagai indigo.
Hal ini terjadi karena adanya entitas yang begitu erat dengan kematangan pengetahuan religiusitas dan spiritualisme individu indigo seperti yang digambarkan. Mulai dari cara ritual, hingga filosofi pemikiran pada agama yang dianut oleh sang indigo, beberapa agama memiliki sumber yang jelas akan jenis orang seperti yang disebutkan, yaitu individu indigo, beberapa agama memiliki kejelasan.
Dan bahkan mereka pula telah memiliki sebutannya masing masing untuk mengenali para individu indigo ini.
Karena telah terdapat hal yang serupa didalam kitab bagi agama masing masin yang membahas tentang individu yang diberkati oleh kemampuan spiritual dengan kapasitas yang berlebih, yang mana hal ini membuat kita melihat para individu indigo.
Ada beberapa agama yang menentang kehadiran individu seperti ini, ada pula agama yang memberikan perhatian khusus kepada individu seperti ini, individu indigo, berbagai macam aliran kehidupan dimunculkan untuk saling berunjuk rasa mengenai sumber asal serta usul keagamaan mereka, dan mengapa mereka mendukung para individu indigo.
Begitupula dengan maraknya hal yang terjadi bagi para individu indigo, yang merasa ada baiknya apabila para individu ini terlebih dahulu mengenali berbagai macam elemen elemen pada kehidupan, seperti keramah tamahan dan keindahan alam, sebuah sumber naturalitas yang terdapat jauh didalam nuraninya.
Melahirkan sebuah aliran baru, yaitu aliran elemental (orang yang bertuhan kepada komponen komponen alam serta kehidupan)
Terutama untuk memperoleh sertifikasi dalam keahlian menguasai banyak bidang dan sub bidang dari psikokinesis baik dalam kategori besar maupun kecil. Yang membuat mereka dapat melalukan keahlian pikiran tertentu seperti telepati, telekinesis, prekognisi, klervoyansi dan kemampuan lainnya yang digerakkan oleh segenap otak, hati dan jiwa manusia.
Menurut saya pribadi, mengetahui apakah seseorang indigo atau tidaknya dapat diketahui (BACA DISINI) melalui daya kapasitas ketangkasan berpikir dan ketajaman intuisinya, yang bisa dikategorikan sebagai talenta murni dari individu indigo. Hal ini tentunya menjadi sebuah ujian sekaligus pembuktian konkrit terhadap individu yang secara nyata pantas menyandang predikat sebagai individu indigo, baik yang masih berusia anak anak maupun telah dewasa.
Jadi, tidak ada yang perlu direka reka lagi, bilamana seseorang memang indigo, maka sudah pasti dia akan secara alami ianya akan menampilkan ciri ciri dari definitas tersebut. Karena suatu ujian sudah jelas menjadi sarana pembuktian terlogis untuk mengetahui indigo atau tidaknya seorang individu.
Individu indigo, mereka lengkap dengan serba - serbi keunikan yang menjadi pamor, sekaligus kekurangan yang tersimpan didalam diri mereka. Dan istilah yang diberikan untuk individu seperti ini juga disebut sebagai individu yang memiliki kemampuan jauh diatas rata - rata pada normalnya, sehingga dapat dikatakan sebagai individu yang bertalenta.
Kemampuan ekletik seperti psikokinesis, tenaga holistik penyembuhan dan intuisi yang lebih terlatih membuat anak anak indigo, prodigi, lebih mahir dibandingkan anak anak normal pada umumnya, tingkatan yang ditetapkan hanya menjadi dasar saja bagi kemampuan tersebut.
Sejauh ini, kita sudah menyaksikan, juga dapat berusaha untuk memahami, membayangkan bahwasanya banyak sekali hal yang menjadi kemungkinan terciptanya berbagai macam sudut pandang mengenai cara mengetahui atau mengklaim perihal iya atau tidaknya seseorang dapat dikatakan sebagai individu yang indigo. Setelah mengulas begitu panjang, akhirnya perasaan lelah mulai terasa.
Akhir kata, saya ingin menyampaikan bahwa semua pembahasan yang telah diperbincangkan pada pembahasan kali ini tentang indigo, memberikan kita semua suatu kesimpulan, dimana semua yang kita ketahui maupun tidak diketahui. Kembali kepada kehendak yang maha kuasa, karena diri-NYA lah yang lebih berhak menciptakan juga mengatur segala hal yang berada di kehidupan ini.
Karena sebagai manusia, kita memiliki batas batas kemampuan tertentu yang sebetulnya tidak sampai melebih sang pencipta.
Indigo adalah suatu anugerah, mereka adalah individu yang berbakat, gifted dan lebih banyak lagi, bakat khusus pada ketajaman intuisi mereka dapat digunakan untuk membantu sesama manusia yang membutuhkan pertolongan, oleh karena itu, indigo seharusnya bisa menjadi suatu kabar gembira didalam suatu proses kelangsungan di masyarakat sosial.
Nah mulai sekarang, yuk, kita rubah pandangan kita dengan mendapatkan informasi yang lebih relevan serta kompleks dari sumber yang jelas dan lugas dalam menguraikan opini, fakta dan konsiderasi serta analogi penjelasan didalamnya.
So, jangan sampai salah lagi tentang indigo ya!
Terima kasih atas perhatiannya, saya dengan senang hati akan menerima pertanyaan, komentar serta saran yang bersifat konstruktif dari rekan rekan semuanya. Sampai jumpa di pertemuan kita yang lainnya.
Hormat saya,
Naufal Rangkuti
Your Contemplation partner.